Saat menghadapi persoalan, kadang-kadang kita bisa terjebak untuk hanya sekadar mendiskusikan masalah tanpa mencari solusi. Hal itulah yang terjadi dengan murid-murid Tuhan Yesus. Saat melihat seorang yang buta sejak lahir, mereka tidak memikirkan cara menyembuhkan orang buta itu, tetapi mereka malah bertanya kepada Sang Guru Agung, "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, dia sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (9:2). Mereka seperti tidak peduli terhadap penderitaan si buta dan mereka justru sibuk memikirkan siapa yang bersalah. Pertanyaan mereka sendiri aneh: Bagaimana mungkin orang buta itu bisa berbuat dosa sebelum ia dilahirkan? Memang, pada masa itu ada pendapat aneh yang mengatakan bahwa janin pun sudah bisa berbuat dosa. Memang, Alkitab mengajarkan bahwa manusia dikandung dalam dosa (Mazmur 51:7). Dosa itu diwariskan dari orang tua. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa janin dapat berbuat dosa, sehingga lahir dalam keadaan buta merupakan hukuman terhadap janin itu. Kebutaan juga bisa saja disebabkan karena masalah genetik. Akan tetapi, mendiskusikan siapa yang menyebabkan orang itu lahir dalam keadaan buta adalah diskusi yang tidak berguna. Oleh karena itu, jawaban Tuhan Yesus mengubah arah pembicaraan itu, "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia." (9:3). Tuhan Yesus mengubah arah pembicaraan tentang "mengapa" menjadi "supaya". Tuhan Yesus mengungkapkan bahwa lahir dalam keadaan buta bisa menjadi sarana untuk mengingatkan bahwa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita harus menjadi sarana untuk memuliakan Allah! Perhatikan bahwa orang buta yang akhirnya disembuhkan oleh Tuhan Yesus itu harus menghadapi "serangan" dari orang-orang Farisi yang selalu mempersoalkan praktik penyembuhan pada hari Sabat. Betapa menyedihkan bahwa orang-orang Farisi itu tidak peduli terhadap masalah kebutaan orang buta tersebut dan hanya ingin berperan sebagai penjaga tradisi Yahudi.
Perhatikan bahwa cara bersaksi orang yang tadinya buta itu amat sederhana, "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." Bersaksi itu tidak harus rumit! Bersaksi itu bisa dilakukan dengan menceritakan pengalaman bertemu dengan Kristus secara apa adanya! Kesaksian yang amat sederhana itu dicatat dalam Injil Yohanes dan telah menjadi sarana yang menolong pembaca Injil Yohanes di sepanjang zaman untuk memuliakan Tuhan. Apakah Anda memiliki pengalaman perjumpaan dengan Kristus? Apakah Anda siap untuk membagikan pengalaman perjumpaan itu kepada orang lain?