Sebelum umat Israel memasuki Tanah Kanaan, suku Ruben, Gad dan sebagian Manasye memilih untuk tinggal di sebelah Timur Sungai Yordan. TUHAN menolong mereka menghalau bangsa-bangsa yang mendiami tanah itu, dan memberi mereka ternak dan harta benda bangsa-bangsa itu. Semula, mereka hidup benar dan setia kepada Allah. Mereka memiliki pasukan yang besar. Ada 44.760 orang yang gagah perkasa dan terampil berperang. Seperti Yabes (4:10), saat ingin memperluas daerah, mereka berseru kepada Allah dan Allah mengabulkan permintaan mereka karena mereka memercayai Dia.
Penulis menulis kembali pelanggaran Ruben, yaitu berzina dengan Bilha, gundik ayahnya. Dosa tersebut membuat hak kesulungannya—porsi ganda pembagian pusaka/warisan—dialihkan kepada Yusuf. Porsi ganda bagi Yusuf itu dibagikan kepada kedua anaknya, yaitu Efraim dan Manasye. Selain itu kedua cucu Yakub ini diangkat derajatnya menjadi anak. Oleh karena itu, nama Yusuf tidak menjadi nama suku, tetapi diganti menjadi suku Efraim dan suku Manasye. Meskipun hak kesulungannya dicabut, keberadaan Ruben sebagai anak Yakub tetap diakui. TUHAN tetap memenuhi janji berkat-Nya seperti kepada anak Yakub yang lain. Bani Ruben mendapat bagian Tanah Perjanjian. TUHAN tetap memelihara dan memberkati keturunannya.
Penulis mengakhiri daftar silsilah dua setengah suku di sebelah timur Sungai Yordan dengan kisah pilu yang tidak asing bagi orang Israel. Kisah ini adalah kisah klasik yang terjadi berulang-ulang selama ratusan tahun sejak bangsa Israel keluar dari Mesir, yaitu kisah pemberontakan terhadap Allah yang membawa mereka pada kehancuran. Seperti saudara-saudara mereka di Tanah Kanaan, mereka juga berubah setia dengan menyembah berhala, sehingga TUHAN menyerahkan mereka kepada bangsa Asyur. Mereka lalu diserakkan oleh bangsa Asyur ke berbagai negeri, seperti suku-suku lain di kerajaan Israel.
Penulis sekali lagi menunjukkan kepada bangsa Israel apa yang terjadi bila mereka setia dan mempercayakan diri kepada Allah.Saat mereka berseru kepada Allah, Allah akan memberi kemenangan dan kehidupan penuh damai sejahtera. Sebaliknya, bila mereka berubah setia, mereka akan mengalami penderitaan dan kehancuran. Kita juga cenderung bersikap mandiri dan tidak mempercayakan persoalan yang kita hadapi kepada TUHAN. Usaha sendiri pada akhirnya tidak jarang melibatkan cara-cara yang tidak benar dan tidak diperkenan TUHAN. Tidak mengandalkan TUHAN adalah dosa, apa lagi ditambah dengan usaha sendiri yang tidak diperkenan TUHAN! Apakah Anda selalu mengandalkan TUHAN saat menghadapi persoalan?