Setelah mengalami anugerah Allah secara pribadi yang memberi kesempatan kedua, Nabi Yunus bersedia diutus ke kota Niniwe yang sangat besar itu (3:3). Selain besar, kota itu juga sangat kuat, baik secara militer maupun ekonomi. Tidak ada kerajaan yang berani menyerangnya karena tidak ada kerajaan yang memiliki pasukan yang cukup untuk mengepung kota yang luasnya tiga hari perjalanan itu. Akan tetapi, Allah bisa menaklukkan dan mengubah kota itu, bukan dengan pasukan besar, tetapi cukup dengan mengutus satu orang saja.
Masalah kota Niniwe—yang besar dan makmur—adalah bahwa penduduknya membanggakan kejahatan mereka. Nabi Yunus diutus Allah untuk memperingatkan penduduk Niniwe tentang hukuman yang akan datang empat puluh hari lagi jika mereka tidak bertobat (3:4). Dengan segera, semua orang Niniwe—termasuk raja dan bahkan semua ternak mereka—masuk dalam suasana berkabung yang menandakan pertobatan serius (3:5-8). Penyesalan yang disertai tekad untuk berubah membuat Allah membatalkan hukuman (3:9-10). Pertobatan orang Niniwe yang berlangsung cepat tidak hanya disebabkan karena mereka takut terhadap hukuman Allah, tetapi terutama karena Allah sendiri yang memberikan anugerah-Nya dan melembutkan hati mereka, sehingga mereka bersedia menyambut khotbah Yunus dan percaya kepada Allah (3:5).
Kisah Nabi Yunus dalam bacaan Alkitab hari ini mengajarkan hal penting, yaitu bahwa setiap orang percaya dilayakkan menjadi utusan Tuhan dan bisa menjadi agen perubahan-Nya. Misi Tuhan bukan hanya bagi orang percaya yang hebat atau sukses, tetapi bagi semua orang percaya. Allah sering mengutus orang yang lemah dan pernah gagal, seperti Nabi Yunus atau Rasul Petrus. Kelemahan dan kegagalan bisa menghasilkan kerendahhatian. Orang yang rendah hati akan mengandalkan Allah saja, bukan mengandalkan diri sendiri. Keberhasilan misi di Niniwe tidak bergantung pada kemampuan Nabi Yunus, tetapi pada kehadiran dan kuasa Allah. Orang Kristen seharusnya rela diutus Allah karena kuasa dan tujuan Allah yang tuntas dan sempurna sudah dinyatakan melalui sosok Juruselamat yang lemah tak berdaya di kayu salib. Saat ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda yang hebat, Tuhan Yesus justru mengingatkan mereka pada kelemahan Nabi Yunus sebagai gambaran kematian dan kebangkitan-Nya (Matius 12:38-40). Rasul Paulus mendengar sendiri Tuhan berfirman, "Dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Korintus 12:9). Jadi, kelemahan, kegagalan dan kejatuhan kita bisa berguna bagi Kerajaan Allah. Kalau Yunus bisa menjadi utusan-Nya yang berhasil, setiap kita juga pasti bisa. Pertanyaannya, Apakah Anda bersedia diutus oleh Allah?