1 Tawarikh 1

Silsilah Adam Sampai Anak-anak Ishak

11 April 2026


Pengantar Kitab Tawarikh
Iman Membawa Kemenangan

Kitab Tawarikh diyakini ditulis oleh Ezra, tetapi belakangan ini muncul pendapat yang berbeda. Kitab ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 450-400 SM, pada periode terakhir kembalinya umat Yehuda ke Palestina (tahun 386-444 SM). Ezra kembali ke Yerusalem pada tahun 458 SM. Ezra adalah imam keturunan Harun, sekaligus ahli Taurat yang mumpuni. Dia terpanggil untuk memulihkan kerohanian umat Yehuda, memperkuat pengajaran Taurat, dan menjadikan Bait Suci sebagai pusat kehidupan umat Allah. Semangat inilah yang terkandung dalam kitab Tawarikh. Tujuan utama penulisan kitab Tawarikh adalah membangun fondasi kerohanian umat Allah yang telah kembali dari pembuangan. Fondasi ini sangat penting karena mereka sudah tujuh puluh tahun hidup tanpa kehidupan ibadah yang selayaknya, tanpa Bait Suci, dan tanpa lingkungan yang kondusif, apa lagi mereka sebelumnya hidup dalam kefasikan. Umat yang kembali itu terutama berasal dari suku Yehuda serta Benyamin, dan mungkin saja ada sebagian kecil yang berasal dari suku Israel lainnya. Oleh karena itu, kitab Tawarikh hanya membicarakan sejarah raja-raja Yehuda. Lagi pula, beberapa pewaris Raja Daud tetap setia kepada perjanjian Daud, sedangkan semua raja Israel menyimpang dari perjanjian itu. Kitab Raja-raja menuliskan sejarah kerajaan Yehuda dan Israel secara lengkap, serta menampilkan bagaimana dosa membawa umat Israel pada kehancuran. Sebaliknya, kitab Tawarikh menampilkan iman yang membawa pada kemenangan.

Kitab 1-2 Tawarikh seperti penulisan ulang sejarah Israel dalam kitab 1-2 Samuel dan 1-2 Raja-raja. Akan tetapi, tujuan utama kitab ini bukan sekadar mengulang, melainkan menilai sejarah untuk mengingatkan tentang warisan perjanjian, serta menasihati umat untuk hidup benar sesuai dengan firman Tuhan, agar mereka selalu diberkati Tuhan. Nasihat ini membekali umat Tuhan yang telah "bebas dari hukuman" untuk menjalani hidup baru di Tanah Perjanjian. Tujuan kitab Tawarikh menyerupai kitab Ulangan yang berisi nasihat Musa sebagai bekal hidup bangsa Israel di Tanah Perjanjian, melalui pengalaman hidup masa lalu. Melalui sejarah, penulis memperlihatkan dinamika hidup umat Allah di masa lalu, agar menjadi refleksi bagi kehidupan mereka di masa depan. Kitab Tawarikh mengingatkan betapa parahnya mereka telah berdosa serta betapa besarnya kasih setia Tuhan yang bersedia mengampuni dan menerima mereka kembali. Kitab ini juga mengingatkan akan identitas mereka sebagai bangsa yang istimewa dan mulia, bukan karena sifat bawaan mereka demikian, tetapi karena relasi perjanjian dengan Tuhan. [GI Michael Tanos]





Renungan GeMA 11 April 2026
Silsilah Adam Sampai Anak-anak Ishak

Penulis memulai tulisannya dengan silsilah bangsa Israel, bukan hanya dari leluhur mereka??Abraham??tetapi ditarik jauh sampai ke manusia pertama, Adam. Catatan silsilah ini melegitimasi posisi bangsa Israel sebagai bangsa pilihan TUHAN. "Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, ..." (Keluaran 6:6a). Catatan silsilah Israel yang terperinci menunjukkan bahwa Allah terus memelihara dan menjaga warisan perjanjian itu agar terus berlangsung tanpa putus, meskipun Israel sempat tercerai-berai dan terbuang dari Tanah Perjanjian.

Silsilah ini dimulai dari nama Adam dan diakhiri dengan nama Abraham (1 Tawarikh 1-27). Yang pertama adalah orang yang menjadi leluhur semua umat manusia secara jasmani dan yang mewariskan dosa, sedangkan yang terakhir adalah orang yang mewariskan anugerah keselamatan bagi umat manusia atau menjadi "leluhur iman" bagi orang percaya. Empat ayat pertama mendaftarkan sepuluh nama, dari Adam sampai Nuh. Pada zaman Nuh, seluruh manusia selain Nuh binasa oleh air bah, sehingga setelah air bah, Nuh menjadi leluhur umat manusia melalui ketiga anaknya, yaitu Ham, Sem, dan Yafet. Dari ketiganya, Sem yang menurunkan Abraham, orang yang dipilih Allah untuk mewarisi janji anugerah-Nya. Daftar keturunan Sem ini ditulis dalam empat ayat terakhir, dan sampai Abraham juga ada sepuluh nama. Ayat 34-42 menuliskan daftar keturunan Esau, anak sulung Ishak yang kehilangan hak kesulungan karena ia meremehkan hak tersebut. Ia hanya menginginkan kedudukan dan berkat materi untuk anak sulung, tetapi ia tidak peduli terhadap yang lebih penting, yaitu warisan perjanjian dengan Abraham. Sebaliknya, Yakub menginginkan hak kesulungan yang ia rebut dengan cara yang salah, yaitu dengan memanfaatkan situasi Esau yang sedang lapar serta menipu ayahnya. Yakub berhasil mendapatkan hak itu bukan karena kelicikannya, tetapi karena Allah sudah memilih dia sejak semula (Kejadian 25:23). Bila Yakub menunggu Allah bertindak, dia akan terhindar dari berbagai penderitaan akibat perbuatannya itu.

Allah memilih Israel menjadi umat-Nya walaupun orang-orang pilihan-Nya tidak bebas dari dosa. Status pilihan tidak membebaskan kita dari hukuman dosa. Konsekuensi dosa tetap berlaku karena Allah itu adil. Ada hukum negara dan hukuman sosial yang akan menimpa orang yang bersalah. Umat pilihan Allah tidak terlepas dari dosa, tetapi Roh Kudus selalu mengingatkan akan dosa dan mengarahkan kita ke jalan yang benar. Anda harus memilih: Bertindak mengikuti keinginan roh atau mengikuti keinginan daging. Pilihan mana yang Anda ambil? Apakah Anda siap menghadapi konsekuensinya? [GI Michael Tanos]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design