Apa yang akan Anda lakukan jika Anda dikhianati? Tentunya, tidak mudah menghadapi pengkhianatan karena orang yang disebut berkhianat pasti merupakan orang dekat yang kita percaya, misalnya teman, rekan kerja, pasangan, atau saudara kandung. Saat mengalami pengkhianatan, pemazmur meminta TUHAN yang membalas. Kata "mereka" (109:2b) menunjuk pada orang fasik dan penipu yang berkhianat. Kemungkinan besar, pemazmur yang sendirian menghadapi sekelompok orang yang menyerang dia secara verbal (dengan kata-kata). Serangan melalui kata-kata itu kadang-kadang berakibat fatal karena bisa menggoreskan luka yang sangat dalam di hati. Kata-kata para pengkhianat itu penuh dusta dan kebencian. Pemazmur mengatakan bahwa ia mengasihi mereka, tetapi mereka membalas dengan tuduhan yang dilandasi dusta. Mereka membalas kebaikan pemazmur dengan kejahatan dan membalas kasihnya dengan kebencian (109:2-5).
Saat mengalami pergumulan berat, pemazmur menaikkan doa kepada Allah. Doa ini sekaligus merupakan nubuat tentang masa yang akan datang. Secara khusus, ayat 8 dikutip dalam Kisah Para Rasul 1:20 yang membahas tentang Yudas--yang mengkhianati Yesus Kristus-- yang mati dan jabatannya digantikan orang lain. Doa selanjutnya bukan merupakan kutukan, melainkan konsekuensi yang dinubuatkan pemazmur tentang kehidupan orang-orang yang berkhianat (109:9-15). Pemazmur tidak mengutuk. Ia tetap menunjukkan kasihnya kepada mereka yang berkhianat kepadanya. Sebaliknya, orang-orang yang berkhianat itulah yang mengutuki pemazmur, sehingga pemazmur berkata, "Ia cinta kepada kutuk, maka kutuk mendatangi dia; ia tidak suka kepada berkat, maka berkat menjauh dari dia." (109:17). Jika kita melanjutkan ke ayat sesudahnya, kita akan menemukan bahwa orang-orang ini sudah terbiasa mengutuk, dan mengutuk itu seperti memakai baju, sehingga kutuk itu merembes ke dalam dirinya seperti air, dan ke dalam tulang-tulangnya seperti minyak (109:18). Pemazmur menyerahkan perkara ini kepada TUHAN dan meminta TUHAN membela dia (ay. 21, 26, 27). Selanjutnya, sebuah kalimat yang luar biasa disampaikan oleh pemazmur, "Biarlah mereka mengutuki, asalkan Engkau memberkati; ...." (109:28). Pemazmur tidak menghiraukan kata-kata kutukan yang diucapkan manusia. Yang penting adalah TUHAN ada di pihaknya. Bagaimana dengan Anda: Apakah Anda mengutamakan perkenanan TUHAN atau Anda lebih takut terhadap kutukan orang lain terhadap diri Anda?