Pasal 11 dan 12 adalah transisi tajam dari pasal-pasal sebelumnya. Di dalam pasal 11, TUHAN menyatakan diri sebagai Allah yang bermurah hati dan mengikatkan diri dalam perjanjian dengan umat-Nya. Sikap seperti itu menunjukkan betapa murah hati-Nya Allah terhadap umat yang terus-menerus memberontak kepada-Nya. Akan tetapi, sebagai balasan, umat Israel menghargai Dia dengan sangat murah, yaitu tiga puluh keping perak (11:12;.bandingkan dengan Keluaran 21:32 yang mengatur bahwa jika seekor lembu menanduk seorang budak sampai mati, pemilik lembu harus membayar ganti rugi kepada pemilik budak sebesar 30 syikal perak. Artinya, dengan menghargai pelayanan TUHAN sebagai Gembala seharga tiga puluh uang perak, secara tidak langsung, mereka menganggap nilai peran TUHAN sama persis dengan seorang budak belian yang mati ditanduk lembu). Hal ini membuat Tuhan menjawab dengan sindiran pedas, "Betapa tingginya harga-Ku dinilai oleh mereka!" (11:13). Kita pun perlu bertanya pada diri kita sendiri secara jujur, "Berapa nilai TUHAN bagi kita yang tertampil dalam sikap kita kepada-Nya selama ini?" Besaran nilai yang kita berikan kepada TUHAN sedikit banyak bisa diukur dari seberapa rela kita berkurban bagi Dia, bahkan bisa diukur dari seberapa besar kita melatih dan mendisiplin diri kita untuk mendengar firman-Nya dan menaati Dia. Bila Dia bernilai tinggi bagi kita, tidak akan sulit bagi kita untuk meluangkan waktu guna membaca dan mengingat firman-Nya serta mewujudkannya dalam hidup keseharian kita.
Pasal 12 membuka jalan pemulihan: Sebagai respons atas penilaian umat yang begitu rendah kepada-Nya, Allah justru mencurahkan Roh belas kasihan sehingga umat memandang kepada "Dia yang telah mereka tikam" dengan ratapan pertobatan (12:10). Tindakan Allah itu kembali menunjukkan kemurahhatian yang merupakan bagian dari karakter-Nya. Dia membuka mata hati umat yang sudah menghina dan merendahkan Dia, agar mereka menyadari dosa yang membuat mereka mematahkan perjanjian mereka dengan Allah (lihat 11:10,11). Bukan Allah yang merusak perjanjian, tetapi sesungguhnya, sikap memberontak dan menghina Allah itulah yang merusak perjanjian dengan Allah. Dosa memisahkan kita dari Allah, tetapi Allah tetap setia mengetuk hati dan pikiran kita. Dia berkarya membuka mata hati kita, sehingga kita sadar bahwa kita yang sudah menista dan meninggalkan Dia, bukan Dia yang meninggalkan kita. Kesadaran ini akan membuat kita menemukan anugerah Tuhan yang telah memanggil dan membuat hati kita berbalik kembali kepada-Nya. Apakah Anda sudah membuka hati untuk menyambut karya Allah di dalam diri Anda?