Bayangkan sebuah malam pesta besar di istana Babel. Raja Belsyazar mengadakan jamuan megah untuk seribu pembesar. Anggur mengalir deras, musik bergema, tawa memecah ruangan. Akan tetapi, di tengah kemabukan dan sorak-sorai, ia melakukan sesuatu yang melampaui batas, yaitu ia mengambil perkakas Bait Allah di Yerusalem, yang kudus bagi Allah, dan menggunakannya untuk minum anggur sambil memuji ilah-ilah dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu, dan batu. Tiba-tiba, suasana berubah. Jari-jari tangan manusia muncul dan menulis di dinding istana, "Mene, mene, tekel ufarsin". Dalam sekejap, wajah sang raja memucat. Ia gemetar, lututnya beradu satu sama lain. Musik dan tawa berhenti. Pesta manusia berubah menjadi panggung penghakiman Allah!
Bacaan Alkitab hari ini berisi kisah tentang Allah yang "menginterupsi pesta manusia". Ketika manusia beranggapan bahwa diri mereka berkuasa atas segalanya, Allah menulis satu kalimat yang menghentikan seluruh kesombongan mereka. Daniel dengan berani menegur Raja Belsyazar, "Tuanku tidak memuliakan Allah, yang menggenggam napas Tuanku dan menentukan segala jalan Tuanku" (5:23). Raja Belsyazar pasti mengetahui kisah tentang Nebukadnezar, kakeknya. Allah pernah merendahkan kakeknya yang menyombongkan diri. Sayang, ia tidak belajar dari pengalaman itu. Ia tahu tentang Allah, tetapi tidak mengenal Allah. Ia tahu tentang kuasa Allah, tetapi tidak menghormati-Nya.
Kisah Raja Belsyazar terus berulang. Dunia kita pun sedang berpesta, meninggikan manusia, meremehkan kekudusan, menertawakan iman, dan menganggap Allah hanya legenda kuno. Kita membangun sistem ekonomi, teknologi, dan kekuasaan, seolah-olah kita bisa hidup tanpa Pencipta. Namun, Allah tidak tinggal diam. Ia tidak menulis di dinding rumah kita, tetapi Ia menulis di hati nurani kita, di halaman sejarah, bahkan di tengah bencana dan krisis dunia. Suara-Nya masih sama, "Engkau tidak memuliakan Aku, yang memegang napasmu dan menentukan segala jalanmu!" Kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak ada pesta manusia yang mampu menahan penghakiman Allah. Penghakiman itu bukan terjadi karena Allah kejam, tetapi karena Ia terlalu kudus untuk membiarkan kehormatan-Nya diinjak-injak manusia. Setiap kali kita lupa bersyukur, membanggakan diri, atau menomorduakan Tuhan, "tulisan di dinding" itu diarahkan kepada kita. TUHAN mungkin berkata, "Engkau ditimbang dan didapati terlalu ringan!" Namun, di balik peringatan itu, ada kasih karunia. Allah masih mau berbicara. Ia masih mau menulis agar kita berbalik, bertobat, dan kembali menghormati Dia sebelum semuanya terlambat. Apakah Anda sedang hidup dalam "pesta" yang mengabaikan Allah?