Satu fakta yang sering tak disadari adalah bahwa kebencian yang dipelihara terus-menerus sesungguhnya tidak pernah "diam", tetapi, terus bertumbuh, mengakar, dan akhirnya membentuk identitas seseorang atau suatu bangsa. Dalam psikologi, kebencian yang berulang (chronic hatred) dapat mengubah cara otak melihat orang lain, bukan lagi sebagai sesama manusia, tetapi sebagai objek ancaman. Itulah sebabnya, konflik yang awalnya kecil bisa diwariskan lintas generasi dan menjadi permusuhan turun-temurun seperti yang terjadi antara Edom dan Israel dalam bacaan Alkitab hari ini. Nabi Yehezkiel diarahkan untuk bernubuat terhadap Gunung Seir, yaitu wilayah Edom. Bangsa Edom adalah keturunan Esau (saudara Yakub), musuh umat Israel. Sejak awal Sejarah Israel, mereka memelihara kebencian terhadap Israel. Oleh karena itu, Allah melawan mereka, sehingga yang dihadapi Edom bukan sekadar bangsa Israel, tetapi Allah sendiri. Allah-lah yang menindak musuh umat-Nya.
Mengapa Allah melawan atau menghakimi bangsa Edom? Pertama, Bangsa Edom dihakimi karena mereka memusuhi umat Allah secara turun-temurun (35:5-9). Sikap memusuhi ini dilandasi kebencian yang bukan reaksi spontan, tetapi sikap hati yang dipelihara dan diwariskan. Kebencian itu bukan hanya disimpan dalam hati, tetapi diungkapkan dalam tindakan. Mereka menumpahkan darah orang Israel, menyerang dan merampas, bersekutu dengan musuh Israel, dan bersukacita atas kehancuran Israel. Oleh karena itu, Allah menjatuhkan hukuman yang setimpal, yaitu bahwa"darah akan mengejar" mereka (35:6). Edom yang berarti"merah" akan dipenuhi darah. Dosa dan kebencian yang dirawat pada akhirnya kembali menjadi kehancuran diri sendiri. Kedua, Bangsa Edom dihakimi karena mereka serakah dan sombong (35:10-15). Mereka melawan dan meremehkan kehadiran Allah. Mereka melihat kehancuran Israel sebagai peluang untuk mengambil alih Tanah Perjanjian. Namun, mereka lupa bahwa"TUHAN ada di sana" (Jehovah Shammah). Walaupun bangsa Israel dibuang dan kota-kotanya runtuh, Allah tidak pernah pergi meninggalkan tanah itu dan umat-Nya. Allah tetap hadir, menjaga, dan setia pada janji-Nya. Akhirnya, penghakiman Allah menjadi pembalikan yang adil: Sebagaimana Edom bersukacita atas kejatuhan Israel, demikian pula dunia akan bersukacita atas kehancuran mereka. Allah tidak akan membiarkan kebencian, kesombongan dan keserakahan tanpa pertanggungjawaban. Apakah ada permusuhan yang masih Anda pertahankan? Apakah Anda pernah diam-diam bersukacita atas kejatuhan orang lain? Apakah Anda hidup seolah-olah"TUHAN tidak ada di sana" atau Anda menyadari bahwa Allah adalah Hakim yang adil yang selalu hadir setiap saat di segala tempat?