Tirus adalah kota besar dan kuno milik bangsa Fenisia di pesisir Laut Tengah, di utara Israel (sekarang wilayah Lebanon modern). Kota Tirus—dan Sidon, sekitar 32 km di utara Tirus—adalah kota pelabuhan yang penting bagi seluruh kawasan. Pada zaman Nabi Yehezkiel, Tirus adalah kota perdagangan dunia yang padat penduduk dengan armada laut yang kuat, sehingga Tirus menjadi sombong. TUHAN menghakimi Tirus karena bersukacita atas kejatuhan Yerusalem yang akan menguntungkan bisnis perdagangan Tirus (26:2). Kerajaan Yehuda adalah pesaing atau penghalang ekonomi, sehingga kejatuhannya menjadi peluang keuntungan bagi Tirus. Sikap Tirus ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi mencerminkan moralitas hati yang rusak, yakni keserakahan tanpa belas kasihan dan menjadikan penderitaan orang lain sebagai sumber keuntungan pribadi (oportunisme), padahal Tirus dan Israel bersahabat pada masa Daud dan Salomo. Hubungan mereka rusak karena bangsa Tirus menjual orang Yahudi sebagai budak kepada orang Yunani dan Edom (bandingkan dengan Yoel 3:4–8; Amos 1:9–10). Tirus adalah contoh kesombongan dan ketidaksetiaan perjanjian yang dikritik para nabi.
Meskipun pertahanannya sangat kuat, Allah berjanji bahwa Tirus akan benar-benar dihancurkan. Sepanjang sejarah, banyak bangsa akan datang dan terus menghantamnya seperti gelombang laut. Nebukadnezar mengepung Tirus selama 13 tahun dan menaklukkannya (sekitar 586–573 SM). Bangsa Persia menundukkan Tirus (sekitar 525 SM). Aleksander Agung menghancurkan Tirus pada 332 SM. Kemudian, Antiokhus III menaklukkan dan menundukkan Tirus, dilanjutkan Kekaisaran Romawi hingga akhirnya Tirus dihancurkan sepenuhnya oleh bangsa Saracen pada abad ke-13 M. Kota Tirus hancur total sehingga kota itu menjadi seperti puncak batu yang gundul (Tirus berarti batu), tempat orang menjemur jala di tengah laut. Allah bukan hanya menjatuhkan Tirus, tetapi menurunkannya sampai ke "liang", sebuah lambang kehinaan total dan akhir dari kesombongan manusia. Tirus tidak hanya kehilangan kejayaan, tetapi bahkan lenyap dari panggung sejarah (26:21).
Allah menentang bangsa yang hidup secara materialistis dan bersukacita atas penderitaan orang lain demi keuntungan diri, serta melihat kemalangan orang lain sebagai peluang meningkatkan keuntungan dan menumpuk kekayaan. Orang yang bersikap seperti itu akan berhadapan dengan Allah. Kejayaan tidak akan bertahan bila hati dikuasai keserakahan. Allah bukan mencari orang yang sukses, tetapi mencari hati yang takut akan Dia dan berbelas kasihan. Apakah Anda seorang oportunis yang lebih mengutamakan keuntungan dan kenyamanan daripada kebenaran dan belas kasihan di hadapan Tuhan?