John Calvin pernah berkata, "Hati manusia adalah pabrik berhala yang abadi." Artinya, tanpa sadar, kita terus "memproduksi" berhala pengganti Allah, seperti kesuksesan, kenyamanan, relasi, pelayanan, dan hal-hal "baik" lainnya, lalu menaruhnya di posisi yang seharusnya hanya untuk Allah. Semua itu kita kasihi, kita percayai, dan kita taati lebih daripada TUHAN. Dengan kacamata ini, persoalan dalam Yehezkiel 14 menjadi sangat personal, yaitu bahwa masalahnya bukan sekadar berhala di luar, tetapi takhta hati yang diam-diam sudah diduduki oleh yang bukan Tuhan. Para tua-tua Israel datang mencari TUHAN, tetapi Ia membongkar isi hati mereka. Mereka telah "menjunjung berhala-berhala dalam hatinya" (14:3). "Menjunjung berhala" berarti memberi tempat tertinggi kepada sesuatu selain Allah di pusat keinginan, keputusan, dan kepercayaan (hati) kita. Sebutan "berhala" sering dipakai dengan nada menghina untuk menggambarkan sesuatu yang najis dan tidak bernilai. Jadi, apa yang mereka simpan dan andalkan di dalam hati sebenarnya adalah kotor dan sia-sia di hadapan Allah. Inilah dosa mereka, yaitu loyalitas hati yang terbagi. Mereka ingin mendengar suara TUHAN, tetapi tidak mau meninggalkan berhala dan terus mengutamakan hal-hal lain seperti keamanan, kenyamanan hidup, popularitas, atau kepentingan pribadi. Oleh karena itu TUHAN berkata bahwa Ia akan menjawab mereka dengan cara yang menyingkapkan isi hati mereka sendiri (14:4–5).
Selanjutnya, TUHAN menyebut tiga nama besar: Nuh, Daniel, dan Ayub (14:14, 20). Mereka adalah tokoh-tokoh iman yang benar dan setia. Sekalipun berada di tengah umat, mereka hanya bisa menyelamatkan diri sendiri. Jelas bahwa iman tidak bisa diwakilkan, tidak bersifat kolektif dan tidak bisa diwariskan. Keselamatan bukan karena leluhur yang hebat, sejarah yang mulia, kota yang suci, atau warisan rohani. Kita tidak bisa "menumpang iman" orang lain tanpa pertobatan pribadi. Tidak ada perlindungan rohani karena kedekatan dengan orang saleh. Relasi dengan Allah bersifat pribadi dan setiap orang harus bertanggung jawab atas hubungannya sendiri dengan Allah. Pasal 15 menggambarkan Israel seperti kayu anggur yang hanya bernilai jika berbuah. Tanpa buah, kayu anggur tidak berguna dan hanya untuk dibakar. Hal ini menegaskan bahwa umat TUHAN dipanggil untuk hidup taat dan setia. Tanpa buah, identitas umat kehilangan makna. Hati yang menyembah berhala membuat hidup tidak berbuah, dan hidup yang tidak berbuah menunjukkan hati yang bukan milik TUHAN. Allah melihat hati, bukan sekadar melihat penampilan luar. Allah mau membongkar berhala kita agar kita kembali kepada-Nya. Apakah ada berhala yang tersembunyi di dalam hati Anda? Apakah hidup Anda telah berbuah?