Nabi Yehezkiel kembali mendapat penglihatan tentang kerubim dan roda-roda yang penuh mata seperti dalam pasal 1, tetapi dalam suasana yang sangat berbeda. Di pasal 1, Allah datang dan memanggil, sedangkan di pasal ini, Allah mulai pergi. Penglihatan ini bukan sekadar pengulangan, melainkan peringatan yang makin serius. Setelah dosa umat dibongkar (pasal 8) dan penghakiman dimulai (pasal 9), kehadiran Allah ditarik dan puncaknya adalah kalimat yang menyedihkan, "Kemuliaan TUHAN pergi…" (10:18).
Bacaan Alkitab hari ini menggambarkan tragedi rohani yang sangat dalam, yaitu bahwa kemuliaan TUHAN mulai meninggalkan Bait-Nya. Kemuliaan Allah tidak pergi seketika, tetapi beranjak perlahan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak sembarangan meninggalkan umat-Nya. Saat dosa terus dipertahankan dan seruan pertobatan ditolak, Allah menarik kehadiran-Nya. Bait Allah yang semula penuh kemuliaan menjadi kosong, tinggal bangunan tanpa kehidupan. Tragedi terbesar umat Allah bukan kehancuran kota, tetapi kepergian hadirat Allah. Allah tidak hadir secara otomatis! Kehadiran-Nya adalah anugerah, dan anugerah itu bisa ditarik bila umat terus menolak Allah. Apakah hidup Anda mengundang kehadiran Allah atau justru membuat-Nya pergi menjauh seperti yang terjadi dalam sejarah umat Israel?
Gereja sangat mungkin jatuh menjadi "gereja tanpa hadirat Allah". Aktivitas ada, liturgi ada, pelayanan jalan, tetapi Allah tidak hadir! Kemuliaan Allah bisa bergerak menjauh bila umat-Nya terus menolak Dia. Tidak ada yang lebih berbahaya daripada tetap merasa "baik-baik saja", padahal hadirat Allah sudah tidak lagi nyata dalam hidup kita. Yehezkiel 10 menyingkapkan sebuah tragedi yang sangat menyedihkan dalam sejarah umat Allah, yaitu saat hadirat TUHAN meninggalkan umat-Nya. Peristiwa ini memperingatkan bahwa Allah tidak akan tinggal di tempat yang menolak Dia. Ia berdaulat dan terus bekerja!
Masalah terbesar kita bukan saat kita kehilangan bangunan dan aktivitas, tetapi saat kita tanpa sadar kehilangan hadirat Allah. Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita agar tidak bermain-main dengan dosa yang tersembunyi. Jangan puas dengan bentuk luar tanpa "isi." "Carilah TUHAN selagi Ia berkenan ditemui" (Yesaya 55:6). Lebih baik kita kehilangan segala sesuatu tetapi memiliki hadirat Allah, daripada memiliki segalanya tetapi kehilangan hadirat Allah. Ditinggalkan oleh kemuliaan Allah merupakan kehilangan terbesar yang sering tidak kita sadari. Apakah Anda memiliki kepekaan terhadap kehadiran Allah atau Anda hanya menjalani rutinitas rohani tanpa Dia? Jangan sampai Ia meninggalkan Anda!