Raja yang satu berganti dengan raja yang lain. Inilah yang dicatat dalam 2 Tawarikh 36 tentang para raja yang memerintah di Kerajaan Yehuda. Setiap raja memerintah dalam rentang waktu yang berbeda dan dalam kondisi yang berbeda. Ada raja yang hanya memerintah selama tiga bulan (Raja Yoahas, 36:2), ada yang memerintah selama sebelas tahun (Raja Yoyakim, 36:5), ada yang memerintah selama tiga bulan sepuluh hari (Raja Yoyakhin, 36:9). Yang menyedihkan, ada pula yang dikenang sebagai raja yang melakukan yang jahat di mata TUHAN, yaitu Raja Yoyakim (36:5), Raja Yoyakhin (36:9), Raja Zedekia (36:12). Selain para raja, dicatat juga bahwa para imam dan rakyat Kerajaan Yehuda menjalani kehidupan yang menjijikkan seperti yang biasa dilakukan bangsa-bangsa lain dan menajiskan Rumah TUHAN (36:14).
Apakah TUHAN membiarkan begitu saja perbuatan seperti ini? Tidak! TUHAN bertindak dengan mengutus para utusan-Nya (36:15). Secara umum, utusan TUHAN adalah para Nabi yang TUHAN utus untuk menyampaikan isi hati TUHAN kepada umat-Nya. Adanya utusan TUHAN menunjukkan bahwa TUHAN itu panjang sabar dan rindu agar umat-Nya menyadari kesalahan mereka dan bertobat. Sayangnya, utusan yang dikirim kepada umat-Nya itu sering kali bukan didengar perkataannya, melainkan diejek, bahkan firman TUHAN yang disampaikan malah dihina oleh mereka (36:16). Perbuatan mereka yang jahat membuat TUHAN murka dan menghukum Raja serta penduduk Yehuda dengan menggerakkan raja orang Kasdim untuk mengalahkan mereka dan membumihanguskan kota Yerusalem (36:17). TUHAN membuang penduduk Yehuda ke Babel sampai Kerajaan Babel runtuh dan Kerajaan Persia berkuasa. Inilah penghukuman TUHAN terhadap Kerajaan Yehuda. Apakah amarah TUHAN selamanya menyalah-nyala? Tidak! Setelah murka TUHAN surut, Dia memulihkan keadaan umat-Nya, yaitu setelah umat-Nya berada dalam pembuangan selama 70 tahun. TUHAN memakai Kores, raja Persia untuk membawa orang Yehuda kembali dari pembuangan dan membangun kembali Rumah Allah (36:23).
Apakah hidup Anda lebih baik daripada penduduk Yehuda? Belum tentu! Kita sudah banyak mendengar pengajaran dan peringatan melalui firman Tuhan yang disampaikan kepada kita dalam ibadah maupun melalui renungan dalam saat teduh pribadi kita. Akan tetapi, apakah kita merespons firman Tuhan dengan melaksanakan firman Tuhan itu? Atau sebaliknya, kita menganggap firman Tuhan yang kita baca dan renungkan itu sudah tidak relevan dengan kehidupan pada zaman ini? Jadilah pelaku firman, jangan hanya menjadi pendengar saja!