Di pasal ini, untuk terakhir kalinya, Daud memberi pesan kepada seluruh rakyat Israel melalui para pemimpin dan pembesar yang diundangnya ke istana. Pesan ini disampaikannya bukan dengan cara yang santai, melainkan dengan sangat serius dan formal, tetapi hangat dan penuh persaudaraan, tidak seperti layaknya seorang raja berbicara kepada rakyat. Daud memilih berdiri, bukan duduk di atas takhtanya, dan dia memanggil rakyat, saudaraku dan bangsaku. Daud menyampaikan niatnya membangun Bait Suci, tetapi TUHAN menunjuk Salomo yang membangunnya. Daud ingin agar bangunan itu sangat megah dan agung, karena bangunan itu ditujukan untuk Allah. Bait Suci—yang sering disebut sebagai Rumah Allah—dia sebut sebagai tumpuan kaki Allah. Ungkapan tersebut sangat meninggikan Allah. Semegah-megahnya Bait Suci yang akan ia dirikan, kemegahannya belum bisa mengungkapkan kemuliaan Allah. Bait Suci tidak layak menjadi tempat kediaman Allah dan hanya layak menjadi tumpuan kaki-Nya. Allah memakai ungkapan tersebut dalam kitab Yesaya, Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku. (Yesaya 66:1).
Peringatan Daud kepada Salomo (1 Tawarikh 28:7-9) mengingatkan orang Yahudi, bahwa janji TUHAN mengandung syarat yang harus dipenuhi oleh umat-Nya. Tanah perjanjian akan tetap menjadi milik mereka apabila mereka setia beribadah kepada-Nya. Janji TUHAN untuk mengokohkan kerajaan Salomo sampai selama-selamanya juga bersyarat, jika ia bertekun melakukan segala perintah dan peraturan-Ku (28:7). Oleh karena itu, untuk sementara waktu, kelangsungan kerajaan itu putus karena pelanggaran keturunan Salomo. Janji akan kerajaan yang kokoh sampai selama-lamanya merujuk pada Kerajaan Allah yang ditegakkan oleh Mesias, Sang Raja yang benar dan tidak bercela.
Daud mengingatkan Salomo agar selalu berusaha mengenal Allah dan mencari Dia (28:9). Dalam kehidupan rohani, pengenalan akan Allah adalah kunci untuk dapat melakukan firman TUHAN. Aku menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada kurban bakaran. (Hosea 6:6). TUHAN mengecam ibadah orang Israel yang munafik karena mereka tidak benar-benar mengenal Allah. Kita tidak akan mengetahui kehendak Allah bila kita tidak mengenal pribadi-Nya. Sekalipun kita rajin membaca Alkitab, kita tidak bisa mengerti maknanya bila kita tidak mengenal Allah dengan benar. Bahkan, kita bisa disesatkan oleh pikiran kita sendiri bila kita tidak mengenal isi hati Allah yang sebenarnya. Bagaimana Anda bisa beriman kepada Allah dengan teguh bila Anda tidak mengenal Dia?