Zefanya 1-2

Teguran dan Undangan untuk Kembali

18 Februari 2026


Pengantar Kitab Zefanya
Jejak Kasih di Tengah Murka

Kitab Zefanya disampaikan pada masa pemerintahan Raja Yosia, ketika Yehuda sedang berusaha kembali kepada Tuhan melalui berbagai pembaruan. Namun, pembaruan itu ternyata belum benar-benar menyentuh hati umat. Banyak orang masih hidup dalam penyembahan berhala, mempersembahkan ibadah yang bercampur dengan praktik bangsa-bangsa lain, dan menjalani kehidupan moral yang jauh dari kehendak Tuhan. Dalam keadaan rohani yang demikian, Tuhan memanggil Nabi Zefanya untuk menyampaikan firman yang tegas dan apa adanya. Firman itu membuka mata bangsa Yehuda bahwa Tuhan melihat setiap bentuk penyimpangan, dan Ia tidak membiarkan dosa berjalan tanpa peringatan. "Aku akan mengacungkan tangan-Ku terhadap Yehuda dan segenap penduduk Yerusalem" (1:4). Kalimat ini menjadi tanda bahwa Tuhan menginginkan pertobatan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar perubahan lahiriah yang tampak saleh di luar.

Walaupun inti pesan Nabi Zefanya keras, kitab ini tidak hanya berisi ancaman. Justru di dalam teguran itu tersimpan kasih Allah yang rindu agar umat-Nya kembali kepada-Nya. Zefanya menegaskan bahwa Allah adalah Hakim yang adil, sekaligus Bapa yang penuh belas kasihan bagi mereka yang siap merendahkan diri. Oleh karena itu, sang nabi berseru, "Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, ...." (2:3). Seruan ini menunjukkan bahwa teguran Tuhan bukan dimaksudkan untuk menghancurkan, melainkan untuk memurnikan. Allah membuka jalan bagi pemulihan, tetapi umat harus tunduk kepada-Nya dan meninggalkan dosa mereka.

Puncak pesan yang mengandung pengharapan terdapat pada Zefanya pasal 3. Setelah menggambarkan kerasnya hati Israel dan hukuman bagi bangsa-bangsa, Tuhan menyatakan rencana pemulihan-Nya yang penuh belas kasihan. Ia berjanji menyucikan bibir bangsa-bangsa, menyingkirkan orang congkak, dan meninggalkan suatu umat yang rendah hati serta percaya kepada-Nya. Gambaran pemulihan itu mencapai puncaknya ketika Tuhan menyatakan kegirangan-Nya atas umat-Nya: "... Ia bergembira atasmu dengan penuh sukacita. ? Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai." (3:17). Ayat ini menegaskan bahwa Allah yang menghukum adalah Allah yang sama yang memulihkan. Teguran-Nya memurnikan, dan anugerah-Nya menguatkan. Kitab Zefanya mengajak gereja pada masa kini untuk hidup setia, meninggalkan kompromi, dan berpegang pada kasih Tuhan yang tidak pernah berubah. [GI Bertha Daeli]





Renungan GeMA 18 Februari 2026
Teguran dan Undangan untuk Kembali

Melalui nabi Zefanya, Allah menyampaikan peringatan keras tentang "hari TUHAN", yaitu saat Allah menghukum dosa dengan adil untuk menyatakan kekudusan-Nya. Saat itu, umat merasa aman dengan hidup jauh dari Tuhan. Mereka melakukan ibadah, tetapi hati mereka bercabang. Penyembahan kepada TUHAN dicampur dengan kepada berhala (1:4-6), sehingga ibadah mereka tidak murni lagi. Lebih berbahaya lagi, sikap rohani mereka tumpul. Allah berkata, "Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan suluh; Aku akan menghukum orang-orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya, dan yang berkata dalam hatinya: TUHAN tidak akan berbuat baik atau berbuat jahat!" (1:12). Sikap seperti ini menunjukkan bahwa umat sudah tidak percaya bahwa Allah bekerja dan memerintah atas hidup mereka. Mereka hidup tanpa rasa takut akan Tuhan, tanpa kesadaran bahwa Allah melihat dan menilai setiap langkah hidup manusia.

Di tengah berita penghukuman, Zefanya menyampaikan undangan yang lembut namun tegas. Allah memanggil umat-Nya untuk kembali dengan kesungguhan hati, "Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri? carilah keadilan, carilah kerendahan hati. Mungkin saja kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN." (2:3). Peringatan Allah bukan dimaksudkan untuk menghancurkan, tetapi untuk membawa kepada pertobatan. Pertobatan sejati bukan sekadar rasa bersalah sesaat, tetapi keputusan untuk kembali mencari Tuhan, merendahkan diri, meninggalkan dosa, dan menaati firman-Nya. Di balik kata-kata yang keras, tampak kasih Allah yang rindu memulihkan umat perjanjian-Nya.

Pesan Zefanya mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah menegur tanpa tujuan. Peringatan-Nya dimaksudkan untuk menggugah hati yang mulai tertidur dan menarik kembali umat yang sudah menjauh dari-Nya. Oleh karena itu, kita perlu merespons dengan kesadaran yang benar. Jangan sampai kita menganggap ringan dosa atau merasa aman hanya karena masih beribadah. Allah memanggil kita untuk kembali kepada-Nya dengan kerendahhatian, sebelum hari penghukuman tiba. Bila hari ini firman Tuhan menyingkapkan sikap hati yang mulai tumpul, kebiasaan mencampur iman dengan nilai dunia, atau keengganan menaati perintah-Nya, maka ajakan Tuhan yang mengajak kita pulang adalah anugerah. Pertanyaannya: Apakah Anda sedang menutup telinga dan tetap berjalan dalam kenyamanan palsu, atau Anda akan merendahkan diri dan kembali mencari-Nya dengan sungguh-sungguh? Peringatan Tuhan selalu datang bersama undangan, dan undangan harus dijawab sekarang, bukan nanti! [GI Bertha Daeli]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design