Mikha 1

Melayani dengan Meratap

5 Februari 2026


Pengantar Kitab Mikha
Nabi yang Meninggikan TUHAN

Nama "Mikha" berasal dari bahasa Ibrani yang berarti "Siapakah yang seperti TUHAN?" Pertanyaan ini merupakan pernyataan retoris atau pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban karena jawabannya sudah jelas, yaitu bahwa tidak pernah ada manusia atau sesuatu yang disembah yang benar-benar berkuasa seperti Allah. Allah menghukum para pemimpin dan bangsa-bangsa yang menentang Allah, tetapi Dia mau menyelamatkan orang yang bersedia mengaku dosa dan kembali kepada-Nya (7:9, 18-19, bandingkan dengan 1 Yohanes 1:9).

Nabi Mikha?penulis kitab Mikha?berasal dari Moresyet, sebuah kota kecil yang kemungkinan terletak sekitar 38 km di sebelah selatan Yerusalem. Walaupun berasal dari Kerajaan Yehuda, dia bukan hanya melayani Kerajaan Yehuda (Israel Selatan), tetapi juga melayani Kerajaan Israel Utara. Sekalipun berasal dari kota kecil, Nabi Mikha berani mencela para pemimpin di ibu kota Kerajaan Israel (Samaria) maupun di ibu kota Kerajaan Yehuda (Yerusalem). Keberaniannya mengecam para pemimpin diingat oleh Nabi Yeremia yang melayani satu abad kemudian (bandingkan Mikha 3:12 dengan Yeremia 26:18-19). Nabi Mikha melayani pada zaman Raja Yotam (750-732 SM), Raja Ahas (732-715 SM), dan Raja Hizkia (715-686 SM) dari Kerajaan Yehuda. Pelayanannya sezaman dengan pelayanan Nabi Yesaya dan Nabi Hosea (bandingkan Mikha 1:1 dengan Yesaya 1:1 dan Hosea 1:1) Perlu diingat bahwa penulis kitab Mikha ini berbeda dengan Nabi Mikha bin Yimla yang melayani pada zaman Raja Ahab dan Raja Yosafat (1 Raja-raja 22; 2 Tawarikh 18).

Seperti nabi-nabi lain pada zamannya, Nabi Mikha juga menentang penyembahan berhala. Nabi Mikha mengungkapkan bahwa Allah itu tak terbandingi dalam hal mengampuni dosa (Mikha 7:18). Nabi Mikha memiliki kesamaan dengan Nabi Amos dalam hal mencela ketidakadilan sosial, sehingga ia kadang-kadang disebut sebagai nabi bagi orang miskin atau nabi bagi kelas menengah yang tertindas. Nabi Mikha juga menubuatkan tentang kedatangan Mesias. Dia menubuatkan tempat kelahiran, garis keturunan, asal mula, dan pemerintahan masa depan Sang Mesias (5:1; 4:1-7).

Nubuat-nubuat Kitab Mikha memiliki banyak kesamaan dengan nubuat-nubuat Kitab Yesaya. Keduanya mengungkapkan hukuman TUHAN serta memberi penghiburan. Garis besar kitab Mikha adalah: berita hukuman atas bangsa Israel dan Yehuda (pasal 1-3), berita pengharapan (pasal 4-5), gugatan Tuhan atas dosa mereka (6:1-7:7), dan pengampunan TUHAN atas mereka yang mengaku dosa (7:8-20).[GI Purnama]





Renungan GeMA 5 Februari 2026
Melayani dengan Meratap

Pesan TUHAN kepada umat-Nya disampaikan kepada Nabi Mikha melalui penglihatan. Ingatlah bahwa pesan kitab para nabi umumnya disampaikan dalam bentuk puisi yang sering memakai gaya bahasa, sehingga pesan itu tidak selalu bisa dipahami secara harfiah. Dalam bacaan Alkitab hari ini, pesan menyangkut Samaria dan Yerusalem (1:1) harus dipahami bukan sebagai tentang keadaan kota secara fisik, tetapi tentang penduduk serta para pemimpin. Ibu kota Samaria harus dipandang sebagai mewakili seluruh Kerajaan Israel Utara, dan Yerusalem harus dipandang sebagai mewakili seluruh Kerajaan Yehuda atau Kerajaan Israel Selatan (bandingkan dengan 1:5). Perhatikan bahwa yang paling membangkitkan murka Allah adalah adanya patung berhala yang mereka sembah dan praktik penyembahan berhala yang umumnya disertai pelacuran bakti, yaitu pelacuran yang dilakukan saat berlangsungnya upacara penyembahan berhala.

Dalam Sejarah Israel, praktik penyembahan berhala dimulai sesudah Kerajaan Israel pecah menjadi Kerajaan Israel (di bagian Utara) dan Kerajaan Yehuda (di bagian Selatan). Raja pertama Kerajaan Israel Utara adalah Raja Yerobeam. Karena khawatir bahwa rakyatnya akan meneruskan penyembahan kepada Allah di Bait Allah yang terletak di kota Yerusalem, ia membuat sistem peribadatan yang baru dengan memerintahkan pembuatan patung anak lembu emas yang diletakkan di kota Betel dan kota Dan untuk menjadi Sesembahan bagi bangsa Israel dengan maksud mencegah bangsa Israel pergi beribadah ke Yerusalem, karena ia khawatir bahwa mereka yang pergi ke Yerusalem akhirnya bisa tergoda untuk memberontak terhadap kepemimpinannya atas Kerajaan Israel Utara (lihat 1 Raja-raja 12:26-33). Yang amat menyedihkan, praktik penyembahan berhala (anak lembu emas) itu bukan hanya menjauhkan penduduk Kerajaan Israel Utara dari TUHAN, tetapi juga membuat penduduk Kerajaan Israel Selatan (Yehuda) terpengaruh untuk ikut melakukan praktik penyembahan berhala. Murka Tuhan atas praktik penyembahan berhala itu terlihat jelas dalam nubuat Nabi Mikha yang disampaikan dalam bacaan Alkitab hari ini (Mikha 1:2-7). Perhatikan bahwa dalam melaksanakan tugas kenabiannya, Nabi Mikha tidak merasa bangga atau bersikap arogan, melainkan dia menyampaikan berita penghukuman Allah dengan kesedihan yang mendalam, "Karena itulah aku hendak meratap dan meraung, hendak berjalan dengan bertelanjang kaki dan bertelanjang dada. Aku hendak melolong seperti serigala dan meraung seperti burung unta." (1:8). Sebagai umat Allah yang telah diselamatkan, apakah Anda memiliki kesedihan yang mendalam atas dosa yang merajalela di sekitar Anda? [GI Purnama]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design