Yunus bin Amitai melayani sebagai nabi Allah di Samaria, ibu kota Kerajaan Israel Utara. Ia berasal dari Gat-Hefer (2 Raja-raja 14:25), kota kecil di wilayah suku Zebulon, di Galilea. Dia diutus Allah ke Niniwe?ibu kota Kerajaan Asyur?untuk berkhotbah di sana, agar penduduk kota itu bertobat dari dosa-dosa mereka. Namun, Nabi Yunus menolak karena bangsa Asyur adalah musuh bangsa Israel. Dia memilih untuk melarikan diri "jauh dari hadapan Tuhan" (Yunus 1:3). Maksudnya, ia melarikan diri dari misi Tuhan dan dari tugas kenabiannya. Semua orang Yahudi mengerti bahwa tidak mungkin manusia melarikan diri dari hadapan Allah karena Allah Yahweh adalah Pencipta dan Penguasa langit dan bumi.
Banyak orang dari berbagai latar belakang agama dan budaya mengenal kisah ini dengan versi yang berbeda, tetapi dengan garis besar yang sama, yaitu tentang nabi yang tidak menaati perintah Allah dan ditelan oleh ikan besar. Namun, sebenarnya pesan yang hendak disampaikan oleh Alkitab bukan hanya menyangkut ketidaktaatan sang nabi, tetapi juga menyangkut isu-isu penting masa kini, yakni mencakup isu rasialisme, kesombongan rohani, dan pelanggaran kedaulatan antar bangsa. Namun, yang paling penting adalah bahwa kitab ini menyingkapkan betapa dalamnya belas kasihan dan anugerah Allah.
Kitab Yunus menceritakan tentang Allah yang dengan gigih mengejar nabi-Nya yang memberontak. Allah memakai kekuatan alam dan binatang untuk menyatakan kasih-Nya, mengarahkan ulang jalan hidup Nabi Yunus agar kembali pada panggilan-Nya. Allah yang kita sembah tetap sama, yaitu Allah yang secara gigih mencari orang berdosa?yang telah memusuhi Dia?untuk Ia bentuk menjadi umat-Nya yang Dia kasihi, Dia ampuni, dan Dia utus. Walaupun tidak ada kata 'dosa' dalam kitab Yunus, kitab ini mengajarkan tentang natur dosa manusia dan karakter Allah di semua pasal. Kitab Yunus ini tepat untuk dipelajari jika kita ingin memahami betapa dalamnya keberdosaan kita dan betapa melimpahnya anugerah Allah. Kitab ini menunjukkan dengan indah, bahwa anugerah Allah dan keadilan Allah bisa hadir bersama-sama.
Saat membaca dan merenungkan kitab ini, marilah kita membuka hati dan pikiran kita dengan kaca mata Injil, sehingga kitab ini bukan sekadar kita pahami sebagai kisah nabi yang melarikan diri saja, tetapi juga sebagai kisah Injil yang mengarahkan kepada anugerah Allah yang terbesar, yang telah Ia nyatakan secara tuntas dan sempurna melalui kehidupan dan kematian Yesus Kristus di kayu salib. Selamat menikmati Kitab Yunus! [Pdt. Iwan Catur Wibowo]
Kesengajaan dan keseriusan Nabi Yunus dalam menentang perintah Allah ditunjukkan dengan jelas oleh penulis (1:3): Nabi Yunus melarikan diri ke kota lain yang jauh dan membayar biaya perjalanannya yang pasti tidak murah. Keputusan dan tindakan melarikan diri dari panggilan TUHAN itu memang mengejutkan. Akan tetapi, sesungguhnya, tindakan tersebut adalah dosa yang lumrah dilakukan oleh semua orang.
Ada beberapa gambaran dalam pasal ini yang menolong kita mengerti seperti apa dosa itu. Pertama, Nabi Yunus diutus ke Niniwe, tetapi pergi ke Tarsis: Esensi dosa adalah menolak rancangan Allah, memilih hidup menurut apa yang kita anggap baik dan benar. Nabi Yesaya membahasakannya seperti ini: "Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, ...." (Yesaya 53:6). Kedua, Nabi Yunus tertidur nyenyak saat awak kapal panik dan ketakutan (1:5): Dosa itu terasa enak di awal, melegakan dan melelapkan, tetapi akhirnya kita harus membayar harga. Orang-orang di sekitar kita pun turut menanggung konsekuensi buruk. Ketiga, Nabi Yunus gagal tiba di Tarsis: Dosa tidak akan mampu membawa kita pada tujuan yang kita inginkan. Biasanya, orang memilih berbuat dosa karena ingin bahagia, ingin menyelamatkan diri, ingin mendapat rasa aman. Akan tetapi, kita tidak akan mencapai tujuan kita. Seperti itulah bentuk keberdosaan manusia yang tampak di pasal 1 ini.
Kisah Nabi Yunus memberikan harapan bagi manusia berdosa: Frase "Namun, Tuhan ...." (1:4) menunjukkan sikap Allah atau campur tangan Allah yang tidak membiarkan manusia berdosa yang memberontak terhadap Dia. Allah mempunyai cara sendiri untuk membangunkan manusia yang terlelap dalam dosa dan menyadarkan manusia untuk kembali kepada-Nya dan kepada tujuan-Nya. Allah mengirim badai besar yang membuat Nabi Yunus kena undi dan dilemparkan ke laut, tetapi Allah juga mengirim ikan besar yang menelannya (1:4,17). Badai dan ikan besar adalah anugerah atau kasih karunia Allah. Allah menyelamatkan Nabi Yunus yang tersesat karena memilih jalannya sendiri!
Kita adalah gambar Allah yang ditetapkan menjadi mitra kerja-Nya. Gambar Allah dalam diri kita sudah rusak akibat dosa, sehingga kita suka melarikan diri dari panggilan Allah. Harga yang harus kita bayar adalah akibat buruk yang kita alami saat memilih menjauh dari Tuhan dan misi-Nya. Kabar baiknya, kita memiliki Allah yang gigih mengejar kita dan rela membayar harga. Yesus Kristus, Putra Allah, rela turun ke dunia, menderita di kayu salib, dan membayar harga keselamatan kita dengan darah-Nya. Apakah Anda sudah merespons dengan kesediaan membayar harga demi melaksanakan misi-Nya di tengah dunia? [Pdt. Iwan Catur Wibowo]