Jangan Mengabaikan Realita

Tujuan Hidup Manusia

2 Februari 2015
Jangan Mengabaikan Realita

Pada umumnya, manusia tidak menyukai kenyataan hidup yang pahit atau buruk. Ungkapan bagi kenyataan hidup yang pahit “diperhalus” agar lebih enak didengar, bahkan ada orang yang tabu menyebut hal yang buruk atau pahit dalam hidup seperti kematian. Banyak orang tidak suka menyebut kata “mati”, sehingga kata itu sering diganti menjadi “wafat”, “meninggal dunia”, atau “pulang ke rumah Bapa”, bila kata itu ditujukan untuk manusia.

Alasan di atas membuat banyak orang menganggap gaya bahasa Kitab Pengkotbah terlalu blak-blakan. Nuansa melankolis (muram) dan pesimis (memandang segala sesuatu secara negatif) dalam kitab ini terlihat dari isinya yang diwarnai oleh kesedihan dan frustasi. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa kitab ini ditulis sewaktu Raja Salomo sudah menjelang ajalnya. Walaupun ditulis secara puitis, kitab yang hanya membicarakan tentang kesia-siaan hidup dan tentang kematian ini sangat tidak enak didengar bagi telinga kebanyakan orang. Mungkin ada yang bertanya, “Jika hidup begitu sia-sia, untuk apa Tuhan memberikan hidup kepada manusia?”. Konsep kesia-siaan hidup ini sangat bertolak belakang dengan aliran humanisme yang merasuki jiwa angkatan sekarang yang sangat optimis terhadap kemampuan manusia.

Namun, benarkah kitab Pengkotbah adalah kitab yang sangat pesimis tentang hidup atau kitab yang menganggap bahwa kehidupan manusia adalah sia-sia semata? Jawabannya adalah “ya” bagi orang-orang yang tidak mau menerima kenyataan tentang fananya hidup dan pahitnya hidup setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Penulis kitab ini hanya berbicara tentang kehidupan manusia secara jujur, lugas, dan apa adanya. Meskipun ada perkataan yang agak ekstrim dan lebai (ungkapan bahasa gaul yang artinya adalah “berlebihan”)—misalnya menyamakan manusia dengan binatang—namun perkataan tersebut merangkum pengalaman, pengamatan, dan refleksi tentang kehidupan penulis dan kehidupan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sesungguhnya, penulis tidak memandang kehidupan secara negatif karena penulis berkali-kali mengajak pembaca untuk bersukacita dan beria-ria dalam hidup. Namun, untuk dapat menikmati hidup yang bermakna, manusia harus memiliki hikmat yang berasal dari Tuhan. Tanpa hikmat dari Tuhan, seseorang tidak akan mampu mengisi hidupnya untuk menjadikan hidup itu bermakna. Melalui kitab Pengkhotbah, penulis ingin mengajarkan tentang bagaimana kita bisa mengisi hidup ini dengan hikmat dari Tuhan. [WY]



Senin, 2 Februari 2015

Bacaan Alkitab hari ini: Pengkhotbah 1


Tanpa tujuan hidup yang benar, maka kehidupan manusia hanya kesia-siaan belaka. Segala jerih lelah yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya adalah kesia-siaan. Mengapa? Pertama, manusia tidak akan mampu mencapai tujuan yang diinginkannya karena hati manusia tidak akan pernah puas dengan hal-hal yang ada di dunia ini. Pengkhotbah mengumpamakan ketidakpuasan hati manusia seperti laut yang tidak pernah penuh, mata yang tidak kenyang melihat, dan telinga yang tidak puas mendengar (1:7-8). Hal-hal baru pun menjemukan, tidak mampu memuaskan hati manusia, bahkan hal-hal baru itu sebenarnya “sudah pernah ada” (1:8-11). Kedua, kehidupan manusia begitu fana dan terbatas. Manusia fana dan terbatas dalam segi usia (1:4-5). Kematian adalah sesuatu yang sangat alami dan tidak dapat diprediksi. Lagipula, terjadinya kematian terasa sangat cepat (bandingkan dengan Mazmur 90:10). Manusia juga terbatas dalam segi kekuatan dan hikmat. Semakin banyak mengetahui, semakin banyak pula yang tidak dapat diketahui (Pengkhotbah 1:13-18), sehingga hal ini menimbulkan frustasi dan kepedihan hati. Kehidupan terasa begitu sia-sia.

Sesungguhnya, apa yang membuat kehidupan manusia itu bermakna? Jawabannya adalah bahwa manusia harus kembali kepada Allah Penciptanya. Hati manusia hanya dapat dipuaskan oleh Allah Penciptanya. Melalui iman kepada Allah Anak, manusia memperoleh kehidupan bukan saja di dunia ini tetapi juga di dunia yang akan datang. Dalam Katekismus Besar Westminster yang berisi rumusan iman dari pokok-pokok ajaran Alkitab yang paling mendasar, dikatakan bahwa tujuan utama dan tertinggi manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. Apakah tujuan hidup kita adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya? Jika ya, hidup kita tidak sia-sia! [WY]

Roma 11: 36

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design