Bilangan 32

Pengalaman itu Baik, Tetapi...

24 Juli 2023
GI Mario Novanno

Pemberontakan yang pernah dilakukan bangsa Israel dan yang membuat TUHAN tidak langsung membawa bangsa itu memasuki Tanah Perjanjian membuat Musa merasa trauma (pasal 13-14). Oleh karena itu, saat bani Gad dan bani Ruben mendatangi Musa untuk meminta agar diizinkan menempati tanah di sebelah timur Sungai Yordan.(32:2-5), Musa menjadi agak paranoid--masalah mental yang ditandai rasa curiga dan ketakutan yang berlebihan terhadap orang lain tanpa alasan yang jelas. Kemudian, Musa secara panjang lebar menasihati bani Gad dan bani Ruben (32:6-15).

Kekhawatiran Musa sangat masuk akal! Secara manusia, ia ingin memastikan bahwa kepemimpinannya berhasil. Yang lebih penting, ia ingin agar rencana TUHAN atas bangsa Israel segera digenapi. Tanah Perjanjian sudah di depan mata. Musa khawatir bila keinginan bani Ruben dan bani Gad membuat mereka harus berputar lagi ke padang gurun dan menghabiskan waktu 40 tahun lagi di sana. Akan tetapi, ternyata kekhawatiran Musa hanyalah dugaan yang belum dikonfirmasi kepada bani Ruben dan bani Gad. Jawaban mereka melegakan Musa, "...kami sendiri akan mempersenjatai diri dan dengan bersegera kami akan berjalan di depan orang Israel, sampai kami membawa mereka ke tempatnya ...kami tidak akan pulang ke rumah kami, sampai setiap orang Israel memperoleh miliki pusakanya ...." (32:17-18). Pernyataan bani Gad dan bani Ruben itu mementahkan semua kekhawatiran Musa.

Ada tiga hal yang dapat kita renungkan hari ini. Pertama, Musa-- meskipun pernah mengalami peristiwa masa lalu yang traumatis--seharusnya bisa menyikapi permintaan bani Ruben dan Gad dengan netral. Apa lagi, Musa notabene adalah pemimpin yang setiap tindak-tanduknya diperhatikan oleh bangsanya. Kedua, walaupun pengalaman itu penting dan berharga, tidak berarti bahwa setiap peristiwa harus disikapi berdasarkan pengalaman masa lalu. Pengalaman traumatis seperti pengalaman Musa akan membentuk sikap hati-hati. Pengalaman positif akan cenderung membentuk sikap yang lebih santai. Reaksi-reaksi memang baik. Akan tetapi, alangkah baiknya jika setiap pengalaman tidak selalu menjadi patokan dalam menyikapi suatu masalah. Kita memiliki TUHAN yang kepada-Nya kita dapat bertanya. Atau minimal, ada ‘orang-orangnya’ TUHAN yang kepada mereka kita dapat datang dan mendapat nasihat yang saleh. Ketiga, pengalaman masa lalu--khususnya yang negatif/traumatis--sebaiknya sesegera mungkin dibereskan. Apakah Anda memiliki pengalaman traumatis yang mempengaruhi sikap Anda? Mohonlah pertolongan Roh Kudus agar Anda dapat segera membereskan pengalaman traumatis itu!

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design