Zakharia 13-14

Utopia Melalui Pemurnian

20 Oktober 2022
GI Mario Novanno

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan arti kata "utopia" sebagai sistem sosial politik yang sempurna yang hanya ada dalam bayangan (khayalan) dan sulit atau tidak mungkin diwujudkan dalam kenyataan. Ada kesan pesimis yang kuat dari penjelasan yang disampaikan KBBI. Padahal, istilah ini juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan komunitas yang sengaja dibentuk yang berupaya untuk menciptakan masyarakat yang ideal. Kita pasti sering mendengar pernyataan bahwa selama kita hidup di dunia ini, tidak mungkin tercapai kondisi yang benar-benar ideal. Kita juga diberi tahu bahwa kondisi paling ideal pasti terjadi saat Allah memerintah di sorga kelak. Demikianlah kebenarannya!

Utopia terwujud saat TUHAN menjadi Raja atas seluruh bumi. Saat itu, TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya (14:9). Tidak ada Allah selain Tuhan! Saat Allah memerintah, tidak ada lagi penumpasan (14:11). Akan tetapi, sebelum datang saat itu, TUHAN telah terus mempersiapkan suatu umat yang layak bagi-Nya. Dimulai dengan dibukanya sumber untuk membasuh dosa dan kecemaran (13:1, gambaran tentang Tuhan Yesus sebagai Sumber dan darah-Nya membasuh dosa manusia), dilanjutkan dengan pemurnian yang Tuhan izinkan terjadi melalui tantangan dan kesulitan yang pasti dihadapi sisa-sisa orang yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya (13:9, kita mengenal proses pemurnian ini sebagai proses pengudusan dengan pertolongan Roh Kudus). Proses pemurnian yang dikerjakan Allah digambarkan seperti ditaruh dalam api untuk memurnikan perak atau untuk menguji emas.

Kita mungkin pernah merasakan sakitnya tersundut api atau terkena benda panas. Bila memungkinkan, kita pasti akan mati-matian menghindari sumber panas. Akan tetapi, pemurnian bagi orang-orang kudus tidak mungkin bisa dihindarkan. Tidak ada utopia tanpa pemurnian. Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan. Tidak ada mahkota tanpa salib. Tuhan Yesus sendiri telah menjalani proses yang sebenarnya tidak perlu Ia jalani. Proses itu ia tempuh demi kasih-Nya bagi kita. Sekarang, setelah kita mengalami kasih-Nya, kita harus menjalani proses pemurnian yang menyakitkan itu. Ada yang salah dalam teologi kita jika kita beranggapan bahwa mengikut Tuhan berarti terbebas dari memikul salib dan menyangkal diri. Saat kita merasa tidak sanggup, ingatlah bahwa ada keadaan utopia yang akan kita alami kelak. Kesulitan apa saja yang pernah Anda alami yang membuat iman Anda bertumbuh?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design