Hagai 1

Mencintai Rumah Allah

12 Oktober 2022
Pengantar Kitab Hagai
Kekuatan di Tengah Masalah

Kitab Nabi Hagai ditulis pada masa bangsa Yehuda kembali dari pembuangan atas izin raja Koresy. Mereka pulang ke Yerusalem dengan tujuan membangun kembali Bait Suci yang dihancurkan oleh Kerajaan Babel pada tahun 586 BC. Setibanya di Yerusalem, mereka membangun kembali Bait Suci di bawah pimpinan bupati Zerubabel dan imam besar Yosua (Ezra 3:8-13). Namun, pembangunan tersebut mendapat perlawanan dan terhenti selama 14 tahun (Ezra 4:24).

Saat pembangunan terhenti, Allah mengutus Nabi Hagai untuk melayani umat Yehuda. Nabi Hagai menyampaikan empat berita dalam kurun waktu sekitar 4 bulan. Berita pertama berisi teguran kepada umat Yehuda yang justru sibuk membangun rumah pribadi yang mapan dan terlena dengan kehidupan yang nyaman. Mereka membiarkan Bait Suci terlantar. Selain menegur, nabi Hagai juga mengingatkan bahwa mereka sedang menerima hukuman Allah karena menelantarkan Bait Suci (1:1-11). Berita kedua disampaikan setelah umat Yehuda meneruskan pemugaran Bait Suci. Melihat hasil pemugaran yang tidak ada artinya dibandingkan Bait Suci yang dibangun Salomo, sebagian umat Yehuda menjadi tawar hati. Nabi Hagai memberikan dorongan semangat dengan memberitahukan bahwa Allah akan memenuhi Bait Suci yang mereka bangun dengan kemegahan dan kemuliaan, bahkan melebihi kemegahan Bait Suci sebelumnya (2:1-10). Berita ketiga berisi teguran kepada sekelompok umat Yehuda yang ikut membangun, tetapi tidak menjaga kesucian hidup. Nabi Hagai mengingatkan bahwa kecemaran mereka dapat menyebabkan Bait Suci yang mereka bangun menjadi najis (2:11-20). Berita keempat ditujukan kepada Zerubabel. Sebagai pemimpin, ia harus memiliki semangat yang tinggi dan menularkan semangat itu kepada bangsa Yehuda untuk merampungkan pembangunan. Allah berjanji untuk mengingat pelayanannya dan meninggikannya di antara bangsa-bangsa di bumi (2:21-24).

Pelayanan nabi Hagai mengingatkan kita untuk menjadi utusan Allah yang menguatkan orang yang lemah dan memberi pengharapan kepada orang yang tawar hati. Ketika pembangunan terhenti saat menghadapi kesulitan, nabi Hagai hadir untuk membangkitkan kembali semangat umat Yehuda. Ia memimpin mereka menambatkan pengharapan kepada Allah dan mengandalkan kekuatan dari-Nya untuk menyelesaikan pembangunan. Sama seperti nabi Hagai, kita hadir dalam kehidupan orang-orang yang sedang bergumul, membimbing mereka untuk mencari Allah sebagai sumber kekuatan dan pengharapan mengalahkan segala tantangan kehidupan. [Pdt. Timotius Fu]





Renungan GeMA 12 Oktober 2022
Mencintai Rumah Allah

Seorang pendeta membesuk anggota jemaat yang lama absen dalam kebaktian. Anggota jemaat itu menyampaikan alasan demikian, "Saya juga heran, mengapa setiap kali saya mau ke gereja, selalu ada halangan. Kadang motor rusak, anak menangis, atau tiba-tiba hujan." Meskipun terkesan masuk akal, sebenarnya masalah anggota jemaat itu adalah hati yang tidak menghargai Allah. Masalah itu mirip dengan umat Yehuda yang tidak menghormati Allah sehingga dengan gampang mencari alasan untuk mengabaikan rumah Allah. Kitab Hagai ditujukan bagi bangsa Yehuda yang pulang dari pembuangan atas izin raja Koresy untuk membangun kembali Bait Suci di Yerusalem (Ezra 1:1-5). Namun, pembangunan mereka menghadapi pertentangan dan terhenti selama 14 tahun (Ezra 4:24). Saat itu, umat Yehuda justru sibuk membangun rumah sendiri. Mereka membiarkan Bait Suci terlantar dengan alasan belum waktunya untuk dibangun kembali (Hagai 1:2). Tindakan ini lahir dari hati mereka yang lebih mencintai rumah sendiri ketimbang rumah Allah.

Allah menegur umat Yehuda melalui Nabi Hagai. Nabi Hagai menyampaikan teguran kepada dua pemimpin bangsa, yakni bupati Zerubabel sebagai pemimpin pemerintahan dan imam besar Yosua sebagai pemimpin rohani. Selain itu, Nabi Hagai menegur umat Yehuda secara langsung atas sikap hati mereka yang tidak mencintai rumah Allah disertai ancaman hukuman Allah jika mereka tidak segera bertobat (1:4-11). Oleh pertolongan Allah, umat Yehuda akhirnya memulai kembali pembangunan Bait Suci tersebut 24 hari kemudian (1:14-2:1a).

Peristiwa di atas mengajar kita untuk mencintai rumah Allah. Umat Yehuda mewujudkan kecintaan kepada rumah Allah dengan membangun kembali Bait Suci. Bagi kita, kecintaan kepada rumah Allah dibuktikan dengan kerinduan untuk hadir dalam ibadah di gereja. Sebagai rumah Allah, gereja lebih dari sekadar tempat bagi orang percaya untuk berkumpul dalam ibadah. Gereja adalah simbol kehadiran Allah untuk menyapa dan memberkati umat yang datang mencari-Nya. Pandemi memaksa kita beribadah secara online dan kehilangan banyak berkat yang hanya diperoleh melalui kehadiran fisik di gereja. Sayangnya, masih banyak jemaat memilih beribadah secara online meskipun kondisi sudah memungkinkan untuk hadir secara fisik di gereja. Sudah saatnya kita kembali beribadah secara fisik di gereja, kecuali bila ada halangan yang esensial! Apakah Anda rindu bertemu Allah di rumah-Nya?[Pdt. Timotius Fu]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design