Yakobus 1

Iman Sejati di Tengah Pencobaan

9 Desember 2021
Pengantar Kitab Yakobus
Mewujudkan Iman yang Sejati

Orang Kristen pada masa kini menghadapi tantangan penderitaan--termasuk akibat pandemi--serta menghadapi godaan untuk menjadi serupa dengan dunia yang terus merosot secara moral. Bukanlah suatu kebetulan bila di masa sulit ini, Allah menghendaki kita merenungkan surat Yakobus. Surat ini ditulis oleh Yakobus, saudara Yesus Kristus. Ia percaya kepada Kristus sesudah menyaksikan Kristus bangkit dari kematian (1 Korintus 15:7). Setelah Petrus meninggalkan Yerusalem untuk melayani di tempat lain, Yakobus menjadi pemimpin gereja di Yerusalem yang umumnya beranggotakan petobat Yahudi. Dia menyampaikan pidato dalam sidang di Yerusalem (Kisah Para Rasul 15:13-21). Yakobus melayani sebagai pemimpin gereja di Yerusalem selama kurang lebih dua puluh tahun pada masa yang sulit, yaitu saat kemiskinan merebak di wilayah itu akibat bencana kelaparan. Selain itu, jemaat di Yerusalem menderita penganiayaan dari para pemimpin Yahudi di Yerusalem. Tidak hanya itu, mereka juga mengalami pergumulan internal, yaitu perselisihan antar anggota jemaat. Dalam situasi seperti itu, Yakobus menjadi sokoguru--atau "pilar"--di tengah jemaat Yerusalem (Galatia 2:9). Ialah pembawa damai yang memimpin dengan hikmat dan keberanian, hingga ia mati sebagai martir. Surat Yakobus yang ditujukan bagi "kedua belas suku di perantauan" mengajarkan cara menjalani hidup di masa sukar.

Surat Yakobus termasuk surat am atau "umum" karena penerima surat ini tidak spesifik. Berbeda dengan surat Rasul Paulus yang mengangkat masalah spesifik di gereja lokal, surat Yakobus adalah kumpulan hikmat bagi komunitas orang percaya secara umum. Surat Yakobus ini seperti Kitab Amsal dengan konteks Perjanjian Baru. Fokus surat ini adalah pewujudan iman dalam tindakan praktis. Setiap lembar surat ini berisi perintah langsung untuk mewujudkan iman dalam kehidupan orang percaya yang sudah dikuduskan Allah.

Tujuan Yakobus bukanlah menyampaikan informasi teologis yang baru, tetapi mengemukakan pentingnya mewujudkan iman melalui perbuatan praktis dalam konteks pergumulan hidup orang percaya. Baginya, pada hakikatnya, iman yang tidak disertai dengan perbuatan adalah iman yang mati (Yakobus 2:17) Iman bukanlah suatu ide abstrak, sehingga iman seharusnya berdampak terhadap dunia tempat orang percaya menjalani hidupnya. Yakobus seolah-olah berseru, "Hiduplah berdasarkan imanmu! Hendaklah iman itu terwujud secara nyata dalam hidupmu! Perbuatanmu merupakan bukti nyata bagi imanmu!" [GI Michele Turalaki]





Renungan GeMA 9 Desember 2021
Iman Sejati di Tengah Pencobaan

Bagaimana cara Anda merespons istilah "pencobaan", "ujian", dan "ketekunan"? Respons yang umum adalah menghindar! Natur manusia berdosa cenderung memilih yang serba lancar, mudah, instan, dan dapat diperoleh tanpa bersusah payah. Akan tetapi, berdasarkan perspektif Alkitab, Yakobus menganjurkan pandangan yang sebaliknya, " ...anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." (1:2-3).

Dalam perspektif Kristen, iman itu penting. Itulah sebabnya, apa pun yang memengaruhi iman seseorang harus dilihat sebagai hal yang penting. Ternyata, pencobaan dalam kehidupan adalah sarana yang dipakai Allah untuk menguji iman kita. Ingat, Allah tidak mencobai siapa pun (1:13-15). Pencobaan justru menyingkapkan iman seperti apa yang kita miliki--bukan karena Allah tidak mengenal kita, tetapi supaya kita bisa mengenal kondisi iman kita sendiri--dan memperlihatkan bukti iman bagi orang-orang sekitar yang menyaksikan kehidupan kita.

Perhatikanlah bahwa iman diuji melalui berbagai pencobaan dalam hidup, bukan dihasilkan oleh berbagai pencobaan. Di saat yang bersamaan, ketika berbagai-bagai pencobaan dalam hidup diterima di dalam iman, hasilnya adalah ketekunan. Dalam Alkitab bahasa Yunani, kata "ketekunan"--dari kata Yunani: hupomone--menggambarkan ketahanan yang aktif yang membuat seseorang memilih untuk tinggal di bawah beban yang sangat berat, tidak berusaha melarikan diri atau sekadar menunggu dengan pasif hingga tertimpa beban tersebut. Itulah sebabnya, Yakobus menyatakan bahwa yang berbahagia adalah mereka yang bertahan dalam pencobaan, bukan yang tidak pernah dicobai atau yang bisa dengan mudah menaklukkan berbagai pencobaan. Orang yang tahan uji akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia (1:12).

Jika demikian, bagaimana orang percaya dapat bertekun saat menghadapi berbagai pencobaan hidup? Pertama, kita sangat memerlukan hikmat dari Allah, sehingga kita perlu meminta hikmat itu di dalam iman kepada Allah (1:5-8; 2:16). Kedua, kita harus meneliti, bertekun dan menjadi pelaku firman, bukan hanya sekadar menjadi pendengar firman (1:22-25). Apakah Anda sudah memohon hikmat Tuhan dan menjadi pelaku firman? [GI Michele Turalaki]


Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design