1 Samuel 1

Jangan Salah Menilai!

5 Juli 2020
Pengantar Samuel
Allah Masih Bekerja

Untuk memahami kitab Samuel, konteks sejarah kitab itu perlu diperhatikan dengan tepat. Dalam Alkitab kita, kitab Samuel terletak setelah kitab Rut. Namun, dalam Alkitab bahasa Ibrani, kitab Samuel diletakkan tepat setelah kitab Hakim-hakim. Bersama dengan kitab Yosua, Hakim-hakim, dan kitab Raja-raja, Kitab Samuel digolongkan dalam kumpulan kitab Nabi Mula-mula (Former Prophets). Konteks waktu dan penempatan kitab Samuel sangat penting. Kondisi bangsa Israel pada masa kitab Samuel tergambar dalam kitab sebelumnya, yaitu dalam Hakim-hakim 21:25, "Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri." Mereka jahat dan hidup jauh dari Tuhan. Pada masa kitab Samuel, para imam?secara spesifik, anak-anak Imam Eli?berlaku korup dan melakukan berbagai macam kejahatan dan kedurjanaan (1 Samuel 2:12-17). Tabut Perjanjian diambil dari Kemah Suci di Silo dan dibawa ke medan perang, tetapi dirampas oleh orang Filistin (4:3-7:2). Bangsa Israel hidup menyembah ilah-ilah asing yaitu Baal dan Asytoret (7:3-4). Hakim-hakim tidak jujur dan meneri-ma suap (8:1-3). Bangsa Israel berada pada masa kekelaman!

Mungkin muncul pertanyaan, "Mengapa Allah seakan-akan membiarkan orang Israel berbuat sekehendak hati mereka?" Menga-pa Allah tidak berfirman atau memberi penglihatan kepada orang Israel (3:1b)? Kitab Samuel menunjukkan bahwa Allah tidak tinggal diam dan membiarkan umat-Nya berbuat sesuka hati karena Ia adalah Allah yang berdaulat, kudus, dan menguji hati manusia (16:7). Allah nampak diam dan tidak peduli, padahal sebenarnya Ia terus bekerja (lihat Yohanes 5:17). Ia bekerja dengan tangan yang tidak terlihat, namun tangan itu kuat dan berkuasa (1 Samuel 5:1-12).

Kitab Samuel mengajarkan bahwa pekerjaan Allah sering tidak terselami, namun semua yang dilakukan Allah itu baik dan benar. Ia tak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia mendatangkan keselamatan bagi umat-Nya. Saat manusia terlena dalam dosa, Allah memperhi-tungkan orang yang hidup benar. Ia membangkitkan Samuel untuk membawa perubahan dan pertobatan. Allah mempersiapkan jalan keselamatan bagi manusia berdosa yang tidak mampu melepaskan diri dari belenggu dosa melalui penegakan takhta Daud dan keturun-annya. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk lahir melalui keturunan Daud. Kitab Samuel memberi pengharapan dan kekuatan bagi manusia yang memilih hidup taat kepada Allah di tengah dunia yang bengkok ini. Allah sedang bekerja untuk kebaikan kita! [GI Wirawaty Yaputri]



Tuhan Yesus pernah mengingatkan para pendengar-Nya agar tidak menghakimi (bersikap sebagai hakim terhadap) orang lain (Matius 7:1-5). Kita perlu menyadari bahwa kita tidak sempurna dan kita juga bukan hakim yang adil. Penilaian dan penghakiman yang kita kenakan terhadap orang lain sering kali bersifat subjektif dan dapat dicemari oleh dosa kita sendiri. Contoh yang mungkin sudah pernah kita dengar misalnya adalah kisah seorang ibu yang mengatakan bahwa cucian tetangganya kotor. Setiap hari, ibu ini mengkritik mengapa tetangganya tidak mencuci pakaian sampai bersih. Ternyata, yang menjadi sumber masalah adalah bahwa kaca jendela rumah sang ibu itu sendiri yang kotor dan sudah lama tidak dibersihkan, sehingga ia selalu melihat bahwa cucian tetangganya tidak bersih.

Saat Hana datang berdoa ke Kemah Suci di Silo, Eli?yang pada waktu itu menjadi imam di sana?menyangka bahwa Hana mabuk (1:13), karena Hana terus-menerus berdoa di dalam hati dan hanya bibirnya yang bergerak. Mengapa sampai Eli?seorang imam yang melayani sekian lama di Kemah Suci?tidak dapat membedakan perempuan yang sedang berdoa dengan perempuan yang mabuk? Hal ini sangat aneh, sekaligus mengejutkan. Namun, jika kita memperhatikan kehidupan orang Israel saat itu, kita akan menemukan alasan mengapa Imam Eli dapat salah menilai Hana. Pada waktu itu, orang Israel hidup dalam kejahatan, kedurhakaan, dan kecemaran, bahkan anak-anak Imam Eli melakukan hal-hal yang buruk di area Kemah Suci. Mereka sering tidur dengan perempuan-perempuan yang berkumpul di depan pintu Kemah Pertemuan (2:22). Kemungkinan besar, pada masa itu, perempuan-perempuan mabuk dan dursila?artinya berkelakuan buruk atau jahat?sering datang ke Kemah Suci untuk menjumpai anak-anak Imam Eli. Tidak mengherankan bila Imam Eli menyangka bahwa Hana adalah salah satu dari perempuan-perempuan itu.

Eli salah menilai Hana karena ia tidak memperhatikan "balok" di depan matanya sendiri. Merupakan ironi bahwa kata "dursila" yang dipakai Hana, "Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; ...," (1:16) dikenakan oleh penulis kitab Samuel untuk anak-anak imam Eli, "Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila..." (2:12). Berhati-hatilah saat menilai orang lain! Koreksilah diri Anda sebelum Anda mengoreksi orang lain! [GI Wirawaty Yaputri]
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design