Mengenal Penderitaan Berdasarkan Kitab Ayub

Integritas dan Kesalehan

1 Mei 2014
Mengenal Penderitaan Berdasarkan Kitab Ayub

Pergumulan hidup yang dahsyat dan bertubi-tubi membuat Ayub amat menderita secara fisik maupun secara psikis (kejiwaan). Dalam keadaan seperti itu, karakter Ayub nampak amat mengesankan. Dia memperlihatkan ketabahan yang heroik. Pada akhirnya, kehidupan Ayub dipulihkan: Ia dikaruniai anak-anak lagi serta menerima berkat materi yang berganda.

Apakah kisah Ayub merupakan fakta sejarah atau cerita fiktif?
Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa kisah Ayub merupakan sejarah, bukan cerita fiktif. Pertama, perhatikan kesamaan cara Alkitab memperkenalkan Ayub (Ayub 1:1), Elkana (1 Samuel 1:1), dan Zakharia (Lukas 1:5). Bila Elkana dan Zakharia diakui sebagai tokoh nyata dalam sejarah, mengapa kita keberatan terhadap kesejarahan Ayub? Kedua, ada dukungan dari kitab lain yang menyatakan bahwa Ayub adalah tokoh yang benar-benar ada dalam sejarah. Dalam Yehezkiel 14:14, nama Ayub disebutkan bersama dengan Nuh dan Daniel. Dalam Yakobus 5:11, Ayub disebut sebagai teladan dalam hal ketekunan bagi orang Kristen yang sedang menghadapi penderitaan atau penganiayaan. Bila Ayub adalah seorang tokoh fiktif, tidak mungkin nama Ayub dikutip dalam kedua bagian Alkitab di atas.

Jikalau Allah itu adil dan penuh kasih, mengapa orang benar seperti Ayub dibiarkan menderita sangat hebat (Ayub 1:1, 18)?
Ada beberapa hal yang perlu disadari: Pertama, Allah tidak pernah merancang penderitaan. Yang Dia rancang adalah damai sejahtera dan masa depan yang penuh harapan. Ada tiga penyebab penderitaan manusia, yaitu dosa, dunia, dan Iblis. Dalam kasus Ayub, Iblis diizinkan untuk menguji kesejatian iman Ayub dalam batas yang Allah tetapkan. Kasih karunia Allah memampukan Ayub untuk menghadapi penderitaan yang terburuk sekalipun dengan iman yang teguh kepada Allah dan bersandar kepada-Nya. Kedua, manusia tidak mungkin memahami maksud dan tujuan Allah dalam mengizinkan penderitaan menimpa hamba-hamba-Nya. Allah digerakkan oleh pertimbangan-pertimbangan Pribadinya dan jalan-jalan-Nya tak mungkin terselami (37:5). Ketiga, Allah ingin memurnikan iman dan kehidupan orang percaya sebagaimana emas dimurnikan oleh api (23:10, bandingkan dengan 1 Petrus 1:6-7). Ujian meningkatkan kesalehan, integritas dan kerendahhatian umat-Nya (42:1-10). Keempat, meskipun cara Allah mengizinkan pergumulan hidup nampak ”kejam” dan Dia seperti “diam” saja (seperti anggapan Ayub), akhirnya nampak belas kasihan dan kemurahan Allah yang penuh (42:7-17; Yakobus 5:11). Dia tidak diam, tetapi Dia turut bekerja memakai pergumulan hidup untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Yakinilah bahwa Allah berdaulat penuh untuk mengatur dan memelihara dunia. Dia berkuasa atas Iblis dan “misi” Iblis menggoda manusia dibatasi oleh izin Tuhan. Pencobaan yang diizinkan Allah merupakan ujian iman untuk membuat kita hidup lebih dekat dengan Tuhan dan bersandar penuh kepada-Nya.

Apakah Iblis bebas untuk datang dan pergi menghadap Tuhan di surga sesuka hati (Ayub 2:1-2)? Siapakah yang dimaksud dengan “anak-anak Allah” itu?
Ayub sama sekali tidak tahu bahwa di balik panggung kehidupannya, terdapat percakapan antara Tuhan dan Iblis. Gleason L. Archer memberikan beberapa pertimbangan. Pertama, Setelah Iblis jatuh karena memberontak terhadap Allah (2 Petrus 2:4), wilayah kerjanya masih cukup luas sehingga Iblis dapat berhadapan dengan penghulu malaikat, Mikhael (Yudas 9), bahkan Iblis dapat bercakap-cakap dengan Allah untuk mengajukan dakwaan (Zakharia 3:1). Kedua, sebelum peristiwa penyaliban Kristus, Iblis sekali-sekali dapat masuk ke sidang pengadilan di hadapan Allah untuk menuntut keadilan, yaitu agar Allah menjatuhkan hukuman secara keras terhadap dosa manusia atau terhadap ketidaktulusan motivasi orang beriman kepada Tuhan. Oleh karena itu, Iblis disebut ”pendakwa” yang mendakwa orang-orang Kristen siang dan malam (Wahyu 12:10). Secara terbatas dan sekali-sekali, ia bisa datang kepada Allah di hadapan para malaikat di surga yang disebut sebagai anak-anak Allah (Ayub 1:6; 2:1; 38:7). Ketiga, Jika sidang pengadilan ilahi ini diadakan di surga, surga bagian manakah itu? Menurut 2 Korintus 12:2, ketika Paulus mengatakan bahwa dia diangkat ke tingkat ketiga dari surga untuk melihat kemuliaan di atas, dengan demikian maka sekurang-kurangnya, surga terdiri dari tiga tingkat. Adegan dalam Ayub pasal 2 diduga bukan di tingkat paling tinggi dan paling mulia di mana kekejian dan kenajisan tidak diperkenankan masuk ke kota Allah (Wahyu 21:27). Adegan itu mungkin saja terjadi di tingkat yang lebih rendah, sehingga ketika Tuhan mengadakan sidang ilahi-Nya, Iblis bisa datang sebagai tamu yang tak diundang. Kita perlu menyadari bahwa sekalipun Iblis memiliki kuasa, dia tidak mahakuasa. Bila dia akan mencobai orang beriman, dia harus minta persetujuan Allah. Setelah diizinkan, barulah ia dapat melangkah. Allah membatasi wilayah dan motif kerjanya. Saat Anda menghadapi pergumulan berat, berdoalah mohon Tuhan menguatkan agar Anda dapat melewatinya (Ayub 23:10; 1 Korintus 10:13). [Souw]



Kamis, 1 Mei 2014

Bacaan Alkitab hari ini: Ayub 1-2

Kata “integritas” berarti: “mutu, sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan.” Kata “kesalehan” berarti: “ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah” atau “kesungguhan menunaikan ajaran agama.” Jadi, integritas berkenaan dengan karakter, sifat atau kepribadian seseorang, sedangkan kesalehan berkaitan dengan iman seseorang kepada Allahnya. Ayub memiliki keduanya, yaitu bahwa ia adalah seorang yang berintegritas tinggi, sekaligus ia adalah seorang yang saleh (bandingkan dengan 1:1, 8).

Integritas dan kesalehan Ayub nampak dalam tiga hal: Pertama, integritasnya (termasuk kejujurannya) membuat Ayub dapat dipercaya saat berbisnis. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kekayaan Ayub terus bertambah banyak. Hal ini juga menunjukkan bahwa Tuhan memberkati bisnisnya (1:3). Kedua, ia berperan sebagai imam yang setia mendoakan anak-anaknya (1:4-5). Ayub adalah seorang yang peka secara rohani. Dia tidak hanya memperhatikan hidupnya sendiri, tetapi juga memperhatikan perbuatan dan perkataan anak-anaknya. Oleh karena itu, ia mempersembahkan sepuluh korban bakaran untuk kesepuluh anaknya. Ketiga, secara tidak langsung, Iblis mengakui bahwa kehidupan Ayub itu berintegritas dan takut akan Allah sebab Allah melindunginya. Iblis tidak percaya bahwa kualitas hidup seperti itu dapat dipertahankan jika Tuhan tidak melindungi Ayub (1:8-12). Melalui ujian yang Tuhan izinkan kepadanya, nampak jelas bahwa dia adalah seorang yang berintegritas dan saleh. Jalanilah hidup rutinitas Anda (bersekolah, bekerja, berbisnis, melayani, bersosialisasi dengan lingkungan, dan sebagainya) dengan hidup secara berintegritas dan saleh di hadapan Tuhan serta sesama agar Anda dapat menjadi saksi-Nya. [Souw]


Ayub 1:22
“Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa
dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.”
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design