Bilangan 21

Kelihatannya Sia-sia

14 Juli 2023
GI Mario Novanno

Dapatkah kita sedikit berempati terhadap orang Israel? Bayangkan bahwa selama bertahun-tahun, mereka memakan manna setiap hari. Walaupun mereka dapat mengolah manna dengan berbagai cara, rasanya tetap tidak terlalu berbeda. Wajar bila mereka merasa muak (21:5). Lagi pula, di padang gurun, setiap hari mereka berhadapan dengan masalah yang sama, yaitu krisis air. Sangat manusiawi jika pergumulan yang sama yang tak kunjung usai cenderung menimbulkan frustrasi, sikap menyalahkan orang lain, dan bertanya-tanya kapan masalah bisa teratasi. Sebenarnya, orang Israel--mau tidak mau--toh pasti akan mati semua di padang gurun (14:29-30). "Hidup ini sia-sia!" Mungkin begitulah pikiran orang Israel yang melawan Allah dan Musa.

Apakah hidup ini sia-sia? Peperangan melawan Sihon dan Og adalah peristiwa yang amat berkesan di benak bangsa-bangsa yang di kemudian hari menjadi lawan bangsa Israel. Rahab, seorang perempuan Yerikho--kota pertama yang ditaklukkan bangsa Israel--bersaksi, "Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang yang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah." (Yosua 2:10-11; bandingkan dengan kesaksian orang Gibeon di Yosua 9:9-10). Meskipun orang Israel berputar-putar di padang gurun, hidup mereka tidak sia-sia. Ketaatan pada kehendak TUHAN membuat mereka bisa menyaksikan karya TUHAN dalam hidup mereka (Bilangan 21:3,34). Yang tidak kalah penting, ketaatan mereka mempersiapkan jalan bagi generasi selanjutnya. Pada waktu anak-anak mereka maju berperang kelak, mental musuh-musuh mereka sudah terpukul kalah.

Saat melihat foto pelaku travelling atau wisata kuliner, mungkin kita merasa iri. Kita ingin meniru mereka, tetapi usaha kita bagaikan berjalan di atas treadmill. Kita merasa tidak mengalami kemajuan. Setiap hari, kita menjalani rutinitas yang sama tanpa dinamika. Apakah kondisi semacam itu berarti bahwa hidup kita sia-sia. Jika kita berjalan di dalam Tuhan, Tuhan memiliki rencana atas hidup kita (Efesus 2:10; Yeremia 29:11; Roma 8:28). Walaupun hidup kita terasa seperti biasa-biasa saja, bila kita menaati kehendak dan rencana Allah, Allah akan membuat hidup kita menjadi berarti. Rencana Allah bukan hanya menyangkut diri kita, tetapi juga menyangkut anak-anak kita. Apakah Anda telah hidup mengikuti rencana Allah?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design