Bagian terpenting sebuah bangunan bukanlah hiasan mewahnya, melainkan kekuatan fondasinya. Jika fondasi kuat, seluruh bangunan akan tegak kokoh menghadapi hantaman badai. Rasul Petrus memakai gambaran tersebut untuk menjelaskan realitas hidup kita sebagai pengikut Kristus di tengah masyarakat yang tidak mengenal Allah. Sebagai umat Allah, terkadang kita merasa lelah, terasing, bahkan ditolak oleh lingkungan, saat kita berusaha hidup lurus dan mempertahankan kebenaran firman-Nya. Keterasingan ini bukan suatu kebetulan!
Rasul Petrus menyingkapkan akar penolakan itu dengan mengajak kita memandang Sang Fondasi Utama, "Datanglah kepada Dia, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah." (2:4). Perhatikanlah kontras yang tajam di sini: Dunia yang berdosa sengaja membuang Yesus Kristus karena kebenaran-Nya menelanjangi kegelapan hati manusia. Akan tetapi, dalam kedaulatan-Nya yang tak terselami, Allah Bapa justru menetapkan Kristus sebagai batu penjuru keselamatan. Makna utamanya adalah bahwa saat Anda ditebus dan disatukan dengan Kristus, Anda otomatis akan ditolak oleh dunia, tetapi sangat dikasihi dan berharga di mata Allah.
Karena kita dibangun di atas Kristus, status kita diubah secara total dari hamba dosa menjadi umat pilihan. Di tengah dunia yang bengkok ini, kita dipanggil menjadi batu-batu hidup yang saling menopang satu sama lain. Inilah esensi kehidupan bergereja. Melalui dinamika kelompok kecil pemuridan yang bertumbuh, kita tidak dibiarkan berjuang sendirian, melainkan dirajut erat oleh Roh Kudus menjadi bait rohani yang kudus. Kesadaran sebagai imamat rajani--yang semata-mata ditetapkan oleh anugerah Allah--menuntut perubahan gaya hidup. Kita harus sungguh-sungguh membuang segala tipu muslihat, kedengkian, fitnah, dan kemunafikan yang sering merusak persaudaraan.
Hidup dalam kebenaran Kristus pasti mendatangkan gesekan. Bila Anda difitnah atau menderita secara tidak adil di tengah masyarakat yang majemuk, jangan membalas dengan kejahatan. Ingatlah teladan Kristus yang telah rela menderita untuk memikul dosa kita di kayu salib, supaya kita yang semula terhilang menjadi mati terhadap dosa, lalu hidup sepenuhnya untuk kebenaran. Ketaatan Anda untuk menanggung penderitaan tanpa membalas adalah wujud kepemimpinan rohani dan khotbah yang paling berkuasa bagi dunia. Tetaplah tunduk pada pemeliharaan Allah, Sang Gembala Agung. Apakah kehidupan Anda telah memperlihatkan identitas sebagai umat yang bersedia melayani sesama dengan tulus dan memancarkan terang anugerah-Nya melalui kehidupan sehari-hari?