Sadarkah Anda bahwa saat datang beribadah di hari minggu, Anda cenderung duduk di kursi yang sama, kemudian menaikkan pujian dan mendengarkan firman Tuhan, lalu pulang ke rumah. Semua kegiatan itu kita lakukan secara tertib dan teratur. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kegiatan itu sekadar suatu rutinitas atau benar-benar merupakan waktu perjumpaan dengan Tuhan melalui ibadah? Apakah ruang ibadah yang nyaman dan sejuk, liturgi ibadah yang teratur, serta musik yang indah merupakan jaminan bahwa TUHAN menjadi pusat ibadah? Dalam 2 Tawarikh 5, dikisahkan bahwa pembangunan Rumah TUHAN oleh Raja Salomo sudah selesai. Selesainya pembangunan berarti bahwa sudah tiba waktunya untuk membawa masuk Tabut Perjanjian ke dalam Rumah TUHAN. Bagi orang Israel, keberadaan Tabut Perjanjian yang diletakkan di Tempat Mahakudus merupakan lambang kehadiran dan perjanjian TUHAN yang menuntun umat-Nya. Di sanalah, Allah menemui umat-Nya dan mengungkapkan kehendak-Nya kepada para pelayan-Nya, termasuk Musa (Keluaran 25:22; 30:35); Harun (Imamat 16:2); dan Yosua (Yosua 7:6). Jadi, keberadaan Tabut Perjanjian merupakan simbol kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Oleh karena itu, saat prosesi pengangkatan Tabut Perjanjian, para imam, para penyanyi dan para pemusik berdiri dan menaikkan pujian pengagungan kepada Tuhan. Mereka bersatu hati menaikkan pujian, "Sebab Ia baik! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (2 Tawarikh 5:13). Kalimat—yang bisa kita baca juga dalam Mazmur 136:1—mengungkapkan kesadaran akan kebaikan Tuhan dan kasih setia-Nya yang kekal terhadap umat-Nya. Kalimat pengagungan ini dinyanyikan berulang-ulang. Saat nyanyian pujian tersebut dinaikkan, Rumah TUHAN dipenuhi awan, Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan TUHAN memenuhi Rumah TUHAN (2 Tawarikh 5:14). Kemuliaan TUHAN ini membuat para imam tidak sanggup berdiri untuk terus menyelenggarakan ibadah.
Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa ibadah bukan sekadar kegiatan bergereja. Ibadah berkaitan dengan siapa yang menjadi pusat dalam ibadah. Walaupun telah dipersiapkan dengan baik, bila TUHAN tidak menjadi pusat penyembahan, pertemuan itu hanya sekadar acara yang diadakan dalam gedung gereja, bukan ibadah yang sesungguhnya. Apakah selama ini, para pemimpin gereja dan para pelayan ibadah di gereja Anda sudah bersungguh-sungguh menyiapkan ibadah dan menempatkan TUHAN sebagai pusat ibadah? Bila TUHAN menjadi pusat ibadah, kita akan mengalami kemuliaan TUHAN serta menikmati relasi dengan TUHAN dalam setiap pujian, doa dan penyampaian firman TUHAN dalam ibadah.