Pernahkah Anda bertanya, "Mengapa TUHAN?" Pertanyaan ini umumnya muncul ketika seorang beriman bergumul untuk tetap memercayai TUHAN saat melihat kenyataan ketidakadilan dan penderitaan yang terjadi dalam hidupnya. Pertanyaan "Mengapa Tuhan?" memperlihatkan kualitas relasi dengan Tuhan. Ada ruang terbuka bagi seorang beriman untuk bertanya secara jujur kepada Tuhan atas kenyataan hidup yang mengguncang imannya. Kitab ini berisi percakapan dua arah antara Habakuk dengan TUHAN. Habakuk bertanya mengapa TUHAN membiarkan orang jahat ada di Yehuda (1:1-4), dan TUHAN menjawab, bahwa Ia akan mengutus orang Kasdim (Babel) untuk menghukum mereka yang berbuat jahat (1:5-11). Bagaimana mungkin TUHAN memakai bangsa yang jahat untuk menghakimi Yehuda, umat pilihan-Nya? Habakuk bertanya mengapa TUHAN yang kudus memakai bangsa kafir untuk menghukum umat-Nya sendiri (1:12-2:1), dan TUHAN menjawab bahwa orang benar akan hidup oleh imannya, sedangkan orang fasik akan dihukum (2:2-20, [2:4]). Akhirnya, Habakuk menaikkan doa yang indah dan mengakui kedaulatan TUHAN (3:1-19).
Percakapan Habakuk dengan TUHAN memperlihatkan proses iman dalam mengatasi keraguan. Dimulai dari pertanyaan yang meresahkan jiwa, menerima fakta bahwa TUHAN berdaulat dan adil, lalu puncaknya tersedia rasa aman dalam iman kepada TUHAN. Habakuk berubah dari mengeluh menjadi menyembah TUHAN, "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pokok anggur tidak berbuah, dan hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu dalam kandang, aku akan bersukacita di dalam TUHAN, bersorak-sorai di dalam Allah Penyelamatku." (3:17-18). Pertanyaan "Mengapa Tuhan?" berubah menjadi keyakinan, "Aku akan tetap percaya kepada-Mu."
Tema utama Kitab Habakuk adalah hidup dalam iman. Iman membuat kita dapat menerima kedaulatan dan keadilan Tuhan, walaupun melalui proses yang sulit dipahami. Dalam keluarga Kristen, wajar bila ada pertanyaan, "Mengapa Tuhan?" Jangan hindari bertanya kepada Tuhan, tetapi jangan biarkan pertanyaan menjauhkan Anda dari Tuhan. Bertanya adalah bagian dari perjalanan iman, proses pendewasaan rohani dalam diri setiap pengikut Kristus. Berdirilah teguh untuk menantikan Tuhan! Perhatikan perkataan-Nya! Entah kita menerima jawaban penuh, sebagian, atau muncul pertanyaan baru, tetaplah percaya terhadap rencana-Nya (Roma 1:17). [GI Surya Leung]
Ada kalanya hidup kita terasa seperti di luar kendali. Kita menuduh seolah-olah Tuhan memerintah dunia ini dengan cara yang tidak adil: Orang benar menderita kejahatan, dan orang jahat menikmati kemakmuran serta menguasai orang baik. Oleh karena itu,, wajar jika kita bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan "Sampai kapan ketidakadilan seperti ini akan terjadi, Tuhan?" Akan tetapi, sadarkah Anda bahwa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, kita menempatkan diri sebagai pihak yang berkuasa menentukan siapa yang baik dan siapa yang jahat serta mana hal yang baik dan mana hal yang jahat? Bukankah, penilaian kita tidak bisa dijadikan standar untuk menentukan status moral seseorang, apalagi untuk menilai keadilan Tuhan. Kita semua telah berdosa (1 Yohanes 1:8), dan membutuhkan pengampunan Tuhan, sama seperti semua orang lain (Roma 3:23).
Demikianlah hal yang terjadi dalam perjalanan pelayanan Nabi Habakuk. Ia mengamati kebobrokan kehidupan sosial bangsa Yahudi. Lembaga dan tokoh agama mengabaikan Taurat, kekerasan dan penganiayaan terjadi tanpa henti, keadilan diputarbalikkan (1:4). Ia mengawali percakapan dengan nada protes kepada Tuhan, "Berapa lama lagi, ya TUHAN?" dan "Mengapa?". Habakuk merasa bahwa teriakannya meminta tolong tidak didengarkan, bahkan TUHAN seolah-olah membiarkan kelaliman terjadi (1:2-3). Lalu, TUHAN memberikan jawaban yang membuat ia terheran-heran, "Aku akan membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang ganas dan berangasan itu, ?. Mereka semua datang untuk melakukan kekerasan. ..." (1:6-11). Habakuk gelisah dan kembali protes kepada TUHAN. Meskipun ia punya iman terhadap sifat dan tujuan Allah (1:12), ia kembali mempersoalkan rencana TUHAN (1:13-17). Mengapa TUHAN memakai bangsa Kasdim (Babel) yang jelas-jelas rusak moralnya untuk melaksanakan hukuman kepada umat pilihan-Nya? Habakuk merasa ngeri membayangkan keadaan yang akan dihadapi oleh bangsanya.
Tahu dan percaya bahwa Tuhan berdaulat tidak berarti tidak melihat ketidakadilan, tidak merasakan sakit dan penderitaan, dan tidak bergumul dengan pertanyaan sulit. Hal baik bisa terjadi pada siapa pun?termasuk pada orang jahat?karena Tuhan berbelas kasihan terhadap ciptaan-Nya. Hal ini sulit dipahami! Saat mengingat orang-orang yang sedang melawan rencana Tuhan, apakah Anda sudah membiasakan diri untuk berdoa agar mereka dapat melihat kasih serta rencana Tuhan, lalu bertobat menjadi anak-anak Allah? (bandingkan dengan Mazmur 51:13; Matius 5:44-45). Tuhan mampu membawa kebaikan bagi siapa pun dan melalui situasi apa pun. Percayalah! [GI Surya Leung]