Yesaya 39

Menyenangkan Manusia

25 November 2023
GI Wirawaty Yaputri

Memilih antara menyenangkan manusia dan menyenangkan TUHAN sering kali sulit. Saat bergaul, kita condong untuk lebih menyenangkan hati teman, anak, suami, istri, keluarga, ketimbang menyenangkan hati Tuhan. Mungkin kita berpikir, "Tuhan pasti maklum, tetapi teman saya gampang ngambek." Kita takut membuat ia tersinggung. Mungkin pula kita menghindari tanggung jawab untuk menegur perbuatan dosa yang dilakukan teman kita dengan dalih "mengasihi". Kita mengabaikan tanggung jawab menegur dosa agar tidak kehilangan teman. Kita condong mencari-cari alasan untuk membenarkan sikap yang lebih menyenangkan manusia daripada menyenangkan Tuhan.

Raja Hizkia--yang telah disembuhkan TUHAN--ternyata tidak berupaya sekuat tenaga untuk menyenangkan hati TUHAN. Ketika raja Babel--Merodakh-Baladan--mengirim surat dan hadiah kepada Raja Hizkia, ia menerima mereka di istananya dengan sukacita. Tidak jelas apakah mereka datang karena undangan Raja Hizkia atau karena keinginan mereka sendiri. Yang jelas, Raja Hizkia menerima mereka. Kemungkinan, surat yang dicatat di 39:1 berisi pemberitahuan tentang kedatangan Merodakh-Baladan ke Yerusalem. Hadiah dan kedatangan raja Babel ini jelas memiliki maksud politik. Saat itu, Merodakh-Baladan masih kecil kekuatannya. Ia pasti ingin mencari "mitra politik" untuk melawan Asyur yang saat itu besar kekuasaannya. Raja Hizkia tidak berpikir panjang! Dengan senang hati, ia memamerkan semua harta kekayaan yang ia miliki (39:2). Tidak ada yang tidak diperlihatkannya kepada mereka, baik di istananya maupun di seluruh daerah kekuasaannya. Tindakan Raja Hizkia itu bertentangan dengan kehendak TUHAN. Apa lagi, ia melakukannya tanpa meminta petunjuk TUHAN melalui nabi Yesaya. Ketika nabi Yesaya menegur Raja Hizkia dan menyampaikan nubuat TUHAN tentang pembuangan ke Babel (39:6-7), Raja Hizkia berkata bahwa itu baik. Ia tidak memedulikan masa depan bangsanya! Bagi dia, yang penting adalah adanya kedamaian dan keamanan seumur hidupnya (39:8). Sungguh mengejutkan bahwa Raja Hizkia memiliki sisi buruk seperti ini di dalam hatinya. Ia hidup benar, tetapi ia tidak terlepas dari kelemahan dan dosa manusiawi. Ia mementingkan diri sendiri dan tidak memedulikan orang lain. Ia memilih untuk lebih menyenangkan manusia (raja Babel) daripada mengasihi dan takut akan TUHAN di usia yang telah ditambahkan TUHAN. Setelah diberkati, ia melupakan TUHAN!

Apakah anugerah yang Anda terima dari Tuhan sudah membuat Anda hidup lebih mengasihi Tuhan dan hidup takut akan Dia? Apakah Anda sudah hidup untuk menyenangkan Tuhan, bukan manusia?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design