Yesaya 1

Bapa Yang Mahakasih

12 Oktober 2023
Pengantar Kitab Yesaya
Kasih yang Menutupi Dosa

Kitab Yesaya memberikan bukti dan contoh nyata akan kasih yang menutupi dosa. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Petrus berkata, "Yang terutama: Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." (1 Petrus 4:8). Kasih orang percaya harus begitu dalam, sehingga mampu mengampuni sesama. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kasih menutup mata terhadap dosa. Kasih tidak berkompromi dengan dosa, namun kasih berupaya membawa orang berdosa kembali kepada Tuhan. Rasul Paulus berkata, "Saudara-saudara, kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan." (Galatia 6:1 TB2). Kasih seperti itu tidak mudah dipraktikkan. Namun, inilah panggilan kita sebagai orang percaya.

Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita dengan kasih yang menutupi dosa. Kitab Yesaya menjelaskan bahwa Allah tetap mengasihi umat-Nya yang terus-menerus hidup dalam dosa dan tidak memercayai Dia. Allah mengutus Nabi Yesaya untuk melayani dan mengingatkan umat Israel akan dosa-dosa mereka (Yesaya 6:9-13). Ia menyampaikan nubuat penghukuman yang akan dialami oleh Yehuda dan Yerusalem (pasal 1-12). Tujuan penyampaian nubuat ini adalah agar umat Yehuda bertobat dan kembali kepada Allah. Penghukuman yang diizinkan Allah terjadi atas umat Yehuda tidak dimaksudkan untuk menghancurkan mereka. Tujuan Allah menghukum mereka dan mengirim mereka ke pembuangan adalah untuk memurnikan iman umat-Nya. Kelak, mereka akan dikembalikan ke Yerusalem dan menjadi bangsa yang kudus (4:3-6; 11:11-12)). Di setiap nubuat penghukuman terhadap orang Yehuda, Allah memberi penghiburan dan pengharapan. Di tengah penghukuman, kasih Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Ia berjanji untuk memulihkan mereka serta menyampaikan nubuat tentang kelahiran seorang anak--yang diberi nama Imanuel--sebagai bukti bahwa Ia menyertai umat-Nya (7:14; 8:8, 10). Kelahiran Imanuel ini digenapi secara berganda, yaitu di zaman Yesaya dan kelak, saat Yesus Kristus, Anak-Nya Yang Tunggal, lahir di dunia ini. Injil Matius menyebut Yesus Kristus sebagai Imanuel (Matius 1:23). Kasih Allah yang besar--yang menutupi dan mengampuni dosa, dibuktikan melalui kedatangannya ke dunia untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi dosa-dosa kita. Setelah menerima kasih Allah yang sedemikian besar, apakah Anda telah mengasihi sesama? [GI Wirawaty Yaputri]





Renungan GeMA 12 Oktober 2023
Bapa Yang Mahakasih

Dosa dapat membutakan mata rohani kita dan membuat kita menjadi orang yang bodoh. Dosa membuat pikiran umat Israel lebih buruk daripada binatang. Allah berfirman, "Lembu mengetahui pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan tuannya, tetapi umat-Ku tidak." (1:3). Ayat ini menunjukkan betapa mengerikannya hidup di dalam dosa, yang membuat orang Israel tidak menyadari lagi bahwa mereka sudah lebih buruk perilakunya daripada binatang. Lembu mengetahui pemiliknya, tetapi orang Israel tidak mengingat Allah sebagai Pemilik dan Penebus mereka. Keledai mengenal palungan tuannya, namun orang Israel tidak mengenal lagi Allah yang memelihara hidup mereka, membebaskan mereka, dan membawa mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Ini menjadi pembelajaran bagi setiap kita. Hidup dalam berbagai macam dosa membuat kita menjadi orang bodoh yang tidak bijaksana. Kesombongan membuat kita merasa bahwa kita paling baik, paling layak, dan kita merendahkan orang lain. Kita jadi lupa bahwa kita adalah manusia ciptaan yang rapuh dan fana. Di sinilah letak kebodohan kita. Kita tidak mengandalkan Tuhan dan tidak hidup dengan rendah hati.

Bagaimanakah respons Allah terhadap kebodohan umat Israel? Apakah Allah mencampakkan mereka? Ternyata tidak! Allah justru mengasihani mereka dan meratapi kebodohan mereka. Allah bertanya, "Mengapa kamu mau dipukul lagi, kamu yang semakin murtad? Seluruh kepala sakit dan seluruh hati lemah lesu." (1:5). Keprihatinan terhadap keadaan umat Israel yang hidup dalam dosa membuat Allah mendatangkan "pukulan" untuk mendidik mereka. Allah tidak dengan senang hati mendatangkan pukulan terhadap umat Israel. Akan tetapi, karena Ia adalah Allah Yang Kudus, Ia menghukum umat Israel dengan harapan agar mereka kembali kepada-Nya. Kasih Allah digambarkan seperti kasih orang tua yang membesarkan dan merawat anak-anak, namun anak-anak itu memberontak (1:2). Meskipun demikian, Allah tidak menghancurkan mereka dengan murka-Nya. Nabi Yesaya berkata, "Seandainya TUHAN Semesta Alam tidak meninggalkan pada kita sedikit orang yang selamat, kita sudah menjadi seperti Sodom, dan menjadi sama seperti Gomora." (1:9). Kalimat ini menunjukkan bahwa orang Israel ada hanya semata-mata karena anugerah Allah. Seharusnya, mereka pantas dihukum seperti orang-orang Sodom dan Gomora. Namun, kemurahan Allah membuat mereka tetap hidup pada waktu itu. Dalam hidup kita, Allah sering--bahkan terus-menerus--memberi kesempatan kepada kita untuk kembali dan bertobat dari dosa. Apakah Anda menyadari kasih Allah yang besar ini? [GI Wirawaty Yaputri]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design