Yohanes 15:4-5

Tinggal Dalam Yesus

17 Agustus 2023

Kepemimpinan Rohani

Judul di atas disadur dari buku klasik yang ditulis oleh J. Oswald Sanders (Spiritual Leadership. Moody Press, 2002). Mayoritas renungan mengenai kepemimpinan selama delapan hari ke depan juga banyak diadaptasi dari buku tersebut. Saya menganjurkan agar pembaca membaca buku kecil yang sangat padat ini jika Anda ingin menjadi pemimpin rohani yang dipakai oleh Tuhan.

Teori apa pun mengenai kepemimpinan pasti berbicara tentang pengaruh. Jika kepemimpinan duniawi--terminologi "duniawi" lebih tepat daripada memakai "sekuler," karena "sekuler" sebenarnya tidak memiliki konotasi senegatif "duniawi"--berbicara mengenai kekuatan (posisi, harta, koneksi, intelegensi, dan lain-lain) yang bersumber dari kemampuan diri sendiri, kepemimpinan rohani mengakui bahwa semua sumbernya berasal dari Allah. Oleh karena itu, tujuan kepemimpinan rohani jelas adalah untuk kemuliaan Allah, bukan kemuliaan diri sendiri atau orang lain atau sekelompok orang (baik institusi sosial, keagamaan, perusahaan, bahkan negara dan dunia).

Kita akan bersama-sama merenungkan beberapa prinsip penting yang harus dimiliki, dan bahaya-bahaya yang dihadapi para pemimpin rohani. Meskipun konteks perenungan adalah tentang kepemimpinan rohani--hamba Tuhan, majelis, pengurus, dan aktivis, namun prinsip dan nilai yang ada juga berlaku dalam konteks kepemimpinan yang lebih luas. Pemimpin formal (orang yang menjabat secara struktural) maupun pemimpin informal (orang yang tidak menjabat secara struktural, tetapi memiliki pengaruh yang terkadang lebih kuat dan lebih besar daripada para pemimpin formal) memiliki tanggung jawab penuh untuk membuat kebenaran firman Tuhan nyata melalui teladan hidup mereka.

Pokok pembahasan penting yang harus ada dalam kepemimpinan rohani adalah pentingnya memiliki komunitas. Pada dasarnya komunitaslah yang dapat menolong seorang pemimpin memiliki accountability partner (rekan akuntabel). Accountability partner adalah orang yang kepadanya kita dapat men-sharing-kan apa pun, khususnya khususnya pergumulan pribadi, dan dengan bebas memiliki akses untuk menegur, memperingatkan, mengoreksi tanpa takut membuat marah dan tersinggung. Sebaliknya, rekan tersebut dapat menguatkan, hadir bersama-sama, menopang dalam berbagai bentuk di saat yang paling kita perlukan. Ia dapat menjadi mentor, sahabat, sekaligus "musuh" (dalam arti positif) sehingga kita dapat menjadi seorang pemimpin yang berkenan di hati Tuhan. Kiranya Tuhan menganugerahkan pemimpin rohani sejati di zaman ini. [GI Mario Novanno]





Renungan GeMA 27 Juli 2023
Tinggal Dalam Yesus (Kepemimpinan - HUT Proklamasi RI)

Pada umumnya, para ahli sepakat jika kepemimpinan didefinisikan sebagai--tidak lebih dan tidak kurang--pengaruh. Semakin tinggi ketrampilan kepemimpinan seseorang, pengaruh yang ia miliki juga semakin besar. Pemimpin berbeda dengan kepemimpinan. Seorang pemimpin yang menjabat secara formal/struktural dalam instansi tertentu (perusahaan/yayasan/organisasi) belum tentu memiliki pengaruh yang besar jika keterampilan kepemimpinannya minim. Dampak keputusannya mungkin besar, tetapi pengaruhnya dalam kehidupan pribadi orang lain belum tentu besar. Pengaruh yang dimaksud di sini lebih ke sikap hati, pola pikir, dan ekspresi (tingkah laku) yang dihasilkan dalam kehidupan orang lain. Banyak pemimpin informal/non-struktural yang dapat mempengaruhi orang lebih banyak dalam zaman teknologi informasi ini. Influencer, youtuber, vlogger adalah beberapa contoh.

Karena kepemimpinan sama dengan pengaruh, setiap orang pasti memiliki potensi kepemimpinan, baik secara sadar maupun tidak. Mengapa? Karena keberadaan setiap orang sedikit banyak pasti memengaruhi orang di sekitarnya. Perhatikan bagaimana respons otak, bahasa tubuh, dan intonasi kalimat kita terhadap orang yang tidak kita kenal. Bandingkan jika orang tersebut kita kenal. Baik orang yang tidak kita kenal maupun orang yang kita kenal, keduanya memengaruhi kita, bukan? Sekarang, bayangkan jika pengaruh yang disebarkan seseorang bersifat toxic (meracuni). Respons kebanyakan kita pasti akan menghindar, karena kita tahu bahwa pengaruh tersebut tidak baik, bahkan membahayakan kesehatan jiwa kita. Sebaliknya, jika pengaruh yang disebarkan bersifat menumbuh-kembangkan, kita dapat dengan sukarela dipengaruhi, bahkan mencarinya. Dengan demikian, betapa pentingnya seseorang membangun kepemimpinan secara benar dan sehat.

Pertanyaannya, bagaimana membangun kepemimpinan yang sehat dan benar? Langkah pertama dari jenis kepemimpinan macam ini adalah dengan tinggal di dalam Kristus. Seorang pemimpin sejati harus percaya kepada Kristus bukan hanya untuk keselamatan jiwanya, tetapi untuk mengambil segala manfaat dari firman yang Kristus ucapkan. Saat Kristus menyuruh diam, maka diamlah. Saat Kristus menyuruh lakukan ini/itu, lakukanlah. Buah (pengaruh) dari tinggal di dalam Kristus tidak langsung terlihat, tetapi yakinilah bahwa suatu saat akan berbuah banyak. Artinya, seorang atau beberapa orang akan terpengaruh begitu rupa, sehingga hidupnya diubahkan oleh kepemimpinan yang sehat dan benar. Sebagai pemimpin, apakah Anda sudah sungguh-sungguh tinggal dalam Kristus? Pengaruh apa yang orang lain alami dari kepemimpinan Anda: Baik atau buruk? Sehat atau toxic? [GI Mario Novanno]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design