Ayub 15

Kehidupan Orang Fasik

6 Agustus 2023
GI Benny Wijaya

Di babak pertama (pasal 3-14), para sahabat Ayub berusaha membantu Ayub mencari jawaban atas penyebab penderitaan Ayub melalui argumentasi yang membela keadilan Allah dan mempertanyakan kehidupan Ayub. Di babak kedua (pasal 15-21), karena Ayub tidak mengakui kesalahannya, mereka membela keadilan Allah dengan menyoroti kehidupan orang fasik. Babak kedua dari perdebatan Ayub dengan para sahabatnya dimulai oleh Elifas yang mendasarkan perkataannya pada apa yang dia lihat dalam kehidupan nenek moyangnya yang dianggap berhikmat (15:17-18). Sama seperti dalam perdebatan pertama, Elifas menyarankan agar Ayub tidak terbawa perasaan (4:5; 15:12) dan menyatakan bahwa Allah tidak memercayai siapa pun (4:18; 15:15). Namun, karena Ayub lebih memilih mencari hikmat Allah daripada pengalaman dan pengetahuan para sahabatnya, Elifas juga mempertanyakan hikmat yang dimiliki Ayub (15:2).

Berdasarkan hasil pengamatannya, Elifas menyatakan bahwa kehidupan orang fasik dan lalim tidaklah bahagia sepanjang hidupnya (15:20). Mereka tidak memiliki kedamaian (15:21). Mereka hidup dalam kegelapan dan akan binasa (15:22). Mereka harus mengembara untuk mencari makan (15:23). Mereka melawan dan menantang Allah yang Maha Kuasa (15:25). Mereka berlindung pada sesuatu yang tidak dapat melindungi (15:28). Mereka takkan menjadi kaya (15:29). Kehidupan mereka tidak akan membuahkan hasil (15:33). Kehidupan mereka hanya akan melahirkan bencana dan kejahatan (15:35). Pada akhirnya, mereka akan binasa (15:34). Orang fasik adalah orang yang menentang Allah, baik secara sengaja maupun dengan cara mengabaikan apa yang Allah kehendaki. Orang fasik tidak memiliki perlindungan karena Allah tidak berkenan kepadanya. Oleh karena itu, orang fasik menuju kebinasaan.

Elifas menuduh Ayub melenyapkan rasa takut dan mengurangi rasa hormat kepada Allah (15:4). Tuduhan ini serupa dengan kriteria Elifas tentang orang fasik, yaitu mereka yang melawan Allah dan menantang yang Maha Kuasa (15:25). Secara tidak langsung, Elifas menuduh Ayub sebagai orang fasik. Lagi pula, kondisi Ayub yang sedang menderita sesuai dengan anggapan Elifas tentang orang fasik yang hidupnya menderita. Maksud Elifas jelas agar Ayub sadar diri dan tidak hidup seperti orang fasik yang akan berakhir pada kebinasaan.

Walaupun peringatan Elifas terhadap Ayub itu tidak tepat, peringatan Elifas itu perlu untuk kita renungkan. Kita harus waspada agar kita tidak hidup seperti orang fasik yang hidupnya berakhir dengan kebinasaan. Selagi ada kesempatan, marilah kita datang kepada Allah.

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design