Bilangan 15

Jangan Main-main dengan Dosa

8 Juli 2023
GI Mario Novanno

TUHAN memandang dosa secara sangat serius. Ada dosa yang dilakukan secara tidak sengaja, yaitu saat pengetahuan tentang firman TUHAN tertentu belum dipahami secara jelas dan hati nurani seakan-akan membisu. TUHAN bersedia mengampuni mereka yang membuat kesalahan secara tidak disengaja jika mereka segera menyadari kesalahan mereka dan memperbaikinya (15:22-29). Namun, mereka yang membangkang dan sengaja berbuat dosa akan menerima penghakiman yang keras. Orang yang demikian merupakan "penista TUHAN dan harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya". (15:30) Mengapa? Karena "ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya." (15:31). Dosa yang disengaja ini mencakup dosa yang menurut pandangan manusia merupakan dosa kecil yang bersifat lokal/personal, dan dianggap tidak merugikan orang lain. Itulah yang terjadi dengan orang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat (15:32-36). Apakah merajam orang yang mengumpulkan kayu pada hari Sabat merupakan hukuman berat yang berlebihan? Mengumpulkan kayu pada hari Sabat adalah dosa yang disengaja untuk menentang hukum Allah yang melarang bekerja pada hari Sabat (hukum keempat), yaitu "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmua laki-laki, atau..." (Keluaran 20:8-10). Dosa adalah dosa! Prinsip utamanya bukan pelanggaran terhadap manusia, tetapi terhadap TUHAN. Ada yang berpendapat bahwa mungkin, orang ini mencoba mendahului mengumpulkan kayu api karena takut didahului orang lain. Betapa ia tidak percaya pada pemeliharaan TUHAN! Dosa yang disengaja tumbuh dari sikap yang tidak pantas terhadap Allah.

Sikap seorang anak yang secara sadar tidak mematuhi orang tua dan menentang otoritas mereka, bahkan menantang mereka, merupakan tindakan dan sikap kurang ajar yang harus dihadapi. Reaksi orang tua mungkin agak berlebihan saat menghadapi pembangkangan anak mereka, tetapi tidak demikian dengan TUHAN. Di tengah dunia yang semakin humanis (menganggap TUHAN bersikap terlalu keras terhadap manusia), ada alasan teologis yang tidak dapat dibantah bahwa TUHAN adalah Pencipta dan Pemilik hidup setiap ciptaan-Nya, bahkan TUHAN adalah Penentu standar hidup yang sempurna. Sebagai Hakim yang adil, TUHAN sepenuhnya berhak menghukum sebagai konsekuensi logis atas setiap dosa dan pelanggaran. Bila TUHAN telah mengutus satu-satunya Anak-Nya yang Ia kasihi, bukankah kita sungguh-sungguh harus melihat dosa secara serius?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design