Bilangan 12

Menghadapi Masalah yang Sebenarnya

5 Juli 2023
GI Mario Novanno

Musa tidak pernah menikahi orang Israel. Ia menghabiskan 40 tahun pertama hidupnya di Mesir. Selama 40 tahun berikutnya, ia hidup bersama istrinya--Zipora--seorang perempuan Midian. Tidak ada catatan apakah Zipora masih hidup atau sudah mati saat Musa menikahi seorang perempuan Kush (Etiopia). Akan tetapi, pernikahan dengan perempuan Kush ini membuka celah bagi Miryam dan Harun--saudara-saudara Musa--untuk mempertanyakan legitimasi (keabsahan) kepemimpinan Musa (12:2). Musa dipilih langsung oleh TUHAN (Keluaran 3:10). Ada penjelasan menarik tentang Musa: "Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi." (12:3). "...hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku." (12:7). Relasi TUHAN dengan Musa istimewa, "Dengarkanlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa ... Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN." (12:6,8) Seakan-akan, Alkitab menegaskan bahwa tidak ada yang salah dalam kepemimpinan Musa, termasuk dalam kehidupan pribadinya. Jadi, motif Miryam dan Harun perlu diselidiki!

Orang-orang sering mempermasalahkan perbedaan pendapat yang sepele, namun membiarkan masalah yang serius, seperti saat Miryam dan Harun mendatangi Musa untuk mempertanyakan kepemimpinannya. Sebagai perwakilan para imam dan nabi, posisi mereka adalah yang paling penting setelah Musa. Akan tetapi, mereka belum puas. Masalah sebenarnya adalah kecemburuan mereka yang semakin besar terhadap posisi dan pengaruh Musa. Karena tidak dapat menemukan kesalahan dalam cara Musa memimpin umat TUHAN, mereka mengkritik kehidupan pribadinya, khususnya menyangkut istrinya. Alih-alih menghadapi masalah secara langsung dengan menangani rasa iri dan kesombongan, mereka mengalihkan masalah sebenarnya yang menyangkut diri mereka sendiri. Saat menghadapi konflik, berhentilah dan bertanyalah pada diri sendiri apakah Anda sedang mempermasalahkan masalah yang sebenarnya atau Anda sedang mengaburkan masalah dengan menyerang karakter orang lain. Jika Anda dikritik secara tidak adil, ingatlah bahwa mungkin pengkritik kita takut menghadapi masalah yang sebenarnya. Kritik semacam itu tidak perlu disimpan dalam hati. Saat menghadapi kritik, apakah Anda sudah membiasakan diri untuk meminta hikmat Tuhan agar kita bisa mengidentifikasi masalah yang sebenarnya dan menghadapi masalah dengan tenang?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design