Amsal 1

Dua Aspek Orang Berhikmat

8 November 2021


Pengantar Kitab Amsal
HIKMAT, KETERAMPILAN HIDUP!

Dalam menjalani hidup, setiap hari kita bisa menghadapi persoalan. Bagaimana menangani orang dengan karakter yang sulit, menangani situasi tak menentu yang membuat kita merasa tidak nyaman, serta mengekspresikan emosi secara tepat? Pengetahuan saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan hidup. Kita memerlukan hikmat untuk mengarahkan hidup kita.

Hikmat adalah konsep yang kaya dan tidak mudah disimpulkan. Hikmat adalah sebuah keterampilan dalam kehidupan (the skill of living). Hikmat adalah pengetahuan praktis yang akan menolong seseorang untuk memahami cara berbicara dan bertindak dalam situasi yang beragam. Hikmat inilah yang hendak kita temukan dan kita pelajari dalam Kitab Amsal.

Kitab Amsal adalah koleksi perkataan tanpa garis besar, susunan atau perkembangan. Koleksi semacam ini serupa dengan kehidupan manusia. Walaupun kita berusaha agar hidup kita tersusun rapi, kita akan selalu menemukan hal tak terduga serta krisis yang menyelinap masuk dalam hidup kita. Kadang-kadang, kehidupan ini terasa membosankan. Aktivitas yang terlalu banyak juga bisa membuat kita kewalahan. Mungkin, itulah yang membuat Kitab Amsal disusun tanpa struktur yang jelas.

Kitab Amsal ditulis dalam konteks masyarakat Yahudi kuno yang umumnya hidup sebagai petani atau gembala. Oleh sebab itu, terdapat referensi menyangkut domba dan ternak (27:23), hujan (28:3), membajak sawah (20:4), lumbung (3:10), dan batas tanah (22: 28). Kitab Amsal juga memuat beberapa referensi tentang kehidupan kota seperti pasar (20:14), pintu gerbang (1:21; 8:3), pengadilan (8:15), dan raja (25:6). Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan memperhatikan secara aktif semua bidang kehidupan umat-Nya. Tuhan ingin agar umat Allah hidup secara benar, bukan hanya pada hari minggu di Bait Allah, tetapi juga setiap hari di seluruh area kehidupan, termasuk di pasar, sawah, dan rumah.

Kitab Amsal ditulis dan disusun oleh orang yang takut akan Tuhan. Kitab ini mengandung asumsi bahwa pembaca adalah seorang pengikut Tuhan. Kitab Amsal tidak mudah dimengerti karena berbentuk puisi, tidak memiliki konteks, bersifat epigramatik?artinya pendek, berisi hikmat, walaupun mengandung paradoks?tetapi tidak berarti bahwa kitab ini tidak indah. Pelajarilah hikmat dan telusurilah keindahan hikmat di dalam Kitab Amsal ini! [GI Fernandes Lim]





Renungan GeMA 8 November 2021
Dua Aspek Orang Berhikmat

Ada dua aspek yang merupakan ciri orang berhikmat dalam bacaan Alkitab hari ini. Aspek pertama adalah kesediaan mendengar dan menerima didikan. Mengetahui hikmat sama dengan menerima didikan (1:2-3); Orang bijak harus "mendengar dan menambah ilmu" (1:5). Seorang anak harus mendengar didikan atau ajaran orang tuanya (1:8). Ayat 23 memberi penegasan, "Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu." Tiga kata dalam ayat tersebut?teguranku, hatiku, dan perkataanku?adalah tiga kata yang berhubungan dengan "teguran" berupa celaan, nasihat, atau petuah. Sebaliknya, orang yang menghina didikan adalah orang bodoh (1:7). Orang bodoh menolak atau mengabaikan nasihat (1:24-25) serta benci kepada pengetahuan (1:29). Menerima didikan itu tidak mudah karena manusia cenderung untuk mudah mengkritik, tetapi sulit menerima bila dikritik. Ada kritik yang membangun dan ada kritik yang menjatuhkan. Sikap dalam menghadapi kritik memperlihatkan apakah kita berhikmat atau bodoh. Orang yang berhikmat menghadapi kritik?teguran, nasihat, petuah?dengan kesediaan mendengar dan menerima lebih dahulu, lalu mempertimbangkan, dan berusaha memperbaiki kesalahan bila kritik itu benar. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa orang yang berhikmat itu tidak punya pendirian dan selalu berusaha dianggap baik oleh orang lain, melainkan ia selalu bersedia memperbaiki diri. Apakah Anda bersedia dikritik dan selalu berusaha memperbaiki diri?

Aspek kedua dari orang berhikmat adalah sikap takut akan Tuhan (1:7), sedangkan orang bodoh tidak takut akan Tuhan (1:29). Istilah "takut" sebenarnya bukan dalam arti negatif, melainkan merupakan sikap yang positif?yaitu sikap "hormat"?kepada Tuhan. Menghormati Tuhan berarti mengakui dan menyadari kedaulatan Tuhan?untuk campur tangan dalam segala bidang kehidupan?yang membawa kebaikan. Apakah sikap Anda memperlihatkan bahwa Anda menaruh hormat pada Tuhan? Apakah makin hari Anda makin percaya bahwa Tuhan sedang menuntun kehidupan Anda atau Anda makin hari makin menolak untuk diatur oleh Tuhan, bahkan Anda ingin mengatur Tuhan? Semoga Tuhan menolong kita untuk terus memiliki hati yang mau dibentuk (teachable heart) dan yang takut akan Tuhan. [GI Fernandes Lim]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design