Ratapan 1

Ratapan di tengah Dosa dan Sengsara

19 Oktober 2021


Pengantar Kitab Ratapan
Pengharapan di Tengah Kesusahan

"Pengharapan di Tengah Kesusahan" adalah judul yang mewarnai kisah umat Tuhan dalam Kitab Ratapan. Umat Allah berdosa kepada Tuhan, sehingga mereka dihukum Tuhan. Namun, Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Allah rindu agar umat-Nya berbalik kepada-Nya dengan pertobatan yang sungguh-sungguh. Pertobatan ini diungkapkan dalam doa berisi ratapan yang dipanjatkan dengan harapan bahwa Allah yang murah hati itu akan menolong.

Kitab Ratapan adalah salah satu tulisan paling tragis?atau paling menyedihkan?dalam Alkitab. Kitab Ayub menggambarkan penderitaan individu yang amat mengerikan, sedangkan Kitab Ratapan mengisahkan betapa menyedihkannya umat yang membelakangi TUHAN, Allahnya. Nabi Yeremia?yang menurut tradisi gereja adalah penulis kitab Ratapan?melihat penderitaan umat Allah sebagai disiplin atau hukuman Allah. Penulis sangat berduka melihat betapa besar dosa Yerusalem dan betapa mengerikannya hukuman Allah itu.

Ratapan Nabi Yeremia adalah doa atau seruan dari hati yang hancur dan pedih, yang mengharapkan kasih setia Tuhan. Doa ini disampaikan di tengah kondisi umat yang berdosa, yaitu bahwa: Pertama, umat Allah telah meninggalkan Allah, bukan karena tidak tahu bahwa Allah ada, melainkan karena menganggap Allah sudah tidak relevan dalam hidup mereka. Kedua, umat Allah tidak mau mendengar dan memercayai firman yang keluar dari mulut Allah melalui para nabi-Nya. Mereka tidak memperhatikan firman Allah. Ketiga, umat Allah mengalihkan kepercayaan mereka kepada ?objek? lain yang bukan TUHAN Allah, seperti sekutu politik dari negara lain yang terlihat lebih bisa diandalkan. Akibatnya, Allah murka dan menjatuhkan hukuman kepada umat yang dikasihi-Nya. Dalam keadaan seperti inilah jeritan ratapan terdengar.

Syukur kepada Allah! Di tengah kondisi yang menekan, Allah menaruh pengharapan dalam hati umat-Nya. Ratapan 3:22-23, "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" merupakan pengharapan bagi mereka yang berbalik kepada Allah. Ratapan merupakan doa dari hati yang jujur?yang sedang mengalami penderitaan?untuk terus mengejar kasih setia TUHAN setiap hari. Bukankah di masa pandemi seperti saat ini, ratapan sangat dekat dengan pengalaman kita? Baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota komunitas umat Tuhan dalam gereja, apakah Anda ikut meratap di hadapan Allah karena pandemi ini? [GI Natanael Pratama]





Renungan GeMA 19 Oktober 2021
Ratapan di tengah Dosa dan Sengsara

Bacaan Alkitab hari ini memaparkan betapa memilukannya kondisi Yerusalem yang sengsara karena dosa-dosa mereka. Di bagian pertama, Nabi Yeremia melihat keadaan Yerusalem dari sudut pandang ?orang luar? (1:1-11). Di bagian kedua, sang nabi memosisikan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari dosa dan sengsara Yerusalem (1:12-19). Di bagian ketiga, beliau menyerukan doa kepada TUHAN (1:20-22).

Yerusalem amat menderita karena keberdosaan umat Tuhan. Kota itu seperti janda. Yerusalem?kota yang dahulu dipandang seperti ratu?kini menjadi budak jajahan. Bukan hanya itu: Kini tidak ada lagi penduduk yang tinggal di sana karena yang ada hanyalah keresahan. Dahulu, kota itu ramai karena orang-orang berbondong-bondong ke sana untuk beribadah. Kini, Yerusalem senyap. Dahulu, kota itu dipandang mulia, tetapi kini, kota itu hancur karena segala yang berharga dirampas oleh para lawannya. Dahulu, kota itu berlimpah dengan makanan. Sekarang, penduduknya kelaparan. Betapa perih, pedih, dan merananya kondisi kota itu dalam pandangan sang nabi.

Yeremia, sang nabi, tidak hanya melihat kota Yerusalem ?dari luar?. Ia memosisikan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari Yerusalem. Sang nabi berseru, menangis, bahkan mengerang dalam kesengsaraan yang mendalam. Dalam lubuk hatinya, beliau sadar bahwa kota itu begitu najis dan menjijikkan di hadapan Allah. Jeritan yang menyedihkan menggambarkan betapa mengerikannya dosa penduduk Yerusalem di hadapan Allah. Kengerian yang dialami Yerusalem itu bukan disebabkan karena Allah tidak punya hati lagi kepada umat-Nya, tetapi karena umat-Nya telah memalingkan diri dari Allah. Oleh karena itu, dengan menempatkan diri sebagai bagian dari Yerusalem, Nabi Yeremia mengakui segala kenajisan dosa-dosa bangsanya. Dia 'menjadikan dirinya berdosa'?sama seperti Yerusalem?di hadapan Allah.

Dalam kondisi seperti di atas, dalam doanya, Nabi Yeremia memohon pertolongan Allah. Doa sang nabi tidak lahir dari diri yang merasa paling benar di antara seluruh penduduk Yerusalem. Sebaliknya, beliau menganggap dirinya sebagai bagian dari umat yang menjijikkan itu, dan sang nabi memohon belas kasihan Allah dalam ratapannya. Bukankah Kristus juga melakukan hal seperti itu bagi kita? Bagaimana respons Anda terhadap dosa yang marak di sekitar Anda? [GI Natanael Pratama]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design