Hosea 1-2

Mengasihi Sekalipun Terluka

1 Mei 2021
Pengantar Redaksi untuk GeMA edisi Mei-Juni 2021

Salam sejahtera dalam kasih Kristus.

Kita patut bersyukur bahwa Indonesia telah memulai proses vaksinasi Covid-19. Walaupun angka penularan saat ini masih tinggi, tetapi sudah jauh menurun apabila dibandingkan dengan puncak penularan yang terjadi menjelang vaksinasi. Sekalipun demikian, sadarilah bahwa vaksinasi hanya mengurangi risiko dan belum membebaskan kita dari ancaman penularan Covid-19. Kita tetap harus mengikuti anjuran pemerintah untuk memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, mengurangi perjalanan, dan menjauhi kerumunan. Saat ini, walaupun jumlah penularan berkurang, angka kematian bertambah. Kita harus berdisiplin dan menjaga diri sampai pandemi dinyatakan berakhir. Sementara itu, mendekatlah kepada Tuhan untuk memohon kekuatan dalam menghadapi situasi sulit saat ini. Pandemi ini telah memakan banyak korban, baik berupa korban meninggal maupun kesulitan ekonomi. Banyak orang merasa sedih dan stres karena kehilangan keluarga atau teman, atau kehilangan pekerjaan. Bila kita tidak waspada, pandemi ini bisa membuat emosi kita tidak stabil, hubungan dengan orang lain menjadi rusak, dan masalah semakin bertambah karena kita tidak bisa menguasai diri kita sendiri.

Pada GeMA edisi ini, kita akan membaca dua kitab Perjanjian Lama--yaitu Hosea dan Yoel--dan satu kitab Perjanjian Baru, yaitu Kisah Para Rasul. Selain itu, kita akan mengikuti satu seri renungan khusus berkaitan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga dan Hari Raya Pentakosta. Kitab Hosea sangat penting untuk mengingatkan kita akan kasih Allah yang melampaui apa yang bisa kita bayangkan dengan akal kita. Kitab Yoel mengingatkan kita akan satu tema yang sangat penting dalam Alkitab, yaitu "Hari Tuhan". Bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, hari Tuhan adalah hari yang penuh sukacita, saat kita terlepas dari semua penderitaan manusiawi. Bagi orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, hari Tuhan adalah hari yang mengerikan, saat kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita. Kisah Para Rasul sangat penting untuk mengingatkan kita bahwa saat Tuhan Yesus naik ke sorga, Ia meninggalkan misi untuk kita kerjakan. Terima kasih untuk para penulis, penerjemah, dan seluruh staf yang mempersiapkan edisi ini. Semoga GeMA edisi ini menjadi berkat bagi kita semua!





Pengantar Kitab Hosea
Kasih yang Melampaui Apapun

Kitab Hosea dimulai dengan Allah yang meminta Hosea untuk mencari seorang istri. Allah telah memberi tahu bahwa istrinya akan tidak setia kepada Hosea. Istrinya akan melahirkan anak-anak, tetapi sebagian bukan berasal dari benih Hosea. Sekalipun demikian, Hosea menaati Allah dan menikahi Gomer. Relasi Hosea dengan Gomer, perzinahan Gomer, dan anak-anak mereka merupakan nubuat yang menjelaskan hubungan antara Allah dengan Israel.

Kehidupan pernikahan Nabi Hosea adalah ilustrasi kasih Allah yang "aneh"--dalam pengertian paling positif--terhadap umat-Nya, yaitu bangsa Israel yang bersikap keterlaluan--dalam pengertian paling negatif. Terlalu sering, bangsa pilihan Tuhan itu melacurkan diri kepada yang bukan Allah. Posisi Allah digantikan oleh berhala sesembahan hingga berhala diri (yaitu "aku sebagai allah"). Perzinahan rohani terjadi bukan karena paksaan bangsa lain, tetapi atas dasar sukarela. Bangsa Israel tidak pasif, tetapi aktif mencari berhala. Mereka berinisiatif mencari sarana untuk melampiaskan hawa nafsu. Kisah pernikahan Nabi Hosea merupakan tragedi yang menggambarkan kasih yang nyata, tragis, namun benar dari pihak Allah. Kitab Hosea menjelaskan kasih Allah terhadap umat-Nya serta respons umat Allah sebagai "mempelai perempuan-Nya". Perjanjian telah dibuat dan Allah selalu setia. Kasih-Nya tak berkesudahan dan komitmen-Nya tak tergoyahkan. Akan tetapi, bangsa Israel--yang tingkah lakunya digambarkan oleh tingkah laku Gomer--berulang kali berlaku tidak setia, menyia-nyiakan kasih Allah, dan malah berselingkuh dengan ilah-ilah palsu. Setelah berulang kali menyoroti pemberontakan, pengkhianatan, dan pendurhakaan bangsa Israel secara silih berganti, serta disisipi peringatan akan penghakiman, Allah mengulang komitmen kasih-Nya dan menawarkan rekonsiliasi. Meskipun keadilan tetap harus ditegakkan, kasih dan belas kasihan-Nya berlimpah ruah.

Kita--pembaca masa kini--perlu sadar bahwa Nabi Hosea mulai melayani di akhir masa kemakmuran yang bersamaan dengan keterpurukan moral yang semakin menjadi-jadi saat Yerobeam II memerintah sebagai raja Israel Utara. Saat itu, mereka yang berasal dari golongan menengah ke atas menikmati kemakmuran sambil menindas mereka yang secara ekonomi mengalami kesulitan. Akan tetapi, kedua golongan ini sama-sama melakukan perzinahan rohani dengan menyembah ilah-ilah asing. Selamat merenungkan kasih Allah, sekaligus memeriksa kebobrokan diri kita sendiri! [GI Mario Novanno]





Renungan GeMA 1 Mei 2021
Mengasihi Sekalipun Terluka

Mana ada suami yang setelah memergoki istrinya tidur dengan pria lain tetap memperlakukan istrinya seolah-olah tidak terjadi apa-apa! Masalahnya bukan sekadar soal selingkuh melalui chatting mesra di WA, bukan pula sekadar CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali), tetapi masalah yang terang-benderang, yaitu kepergok langsung di depan mata, melihat dengan mata kepala sendiri, dan hal ini berulang kali terjadi dengan laki-laki yang berbeda-beda. Suami yang perasaannya sudah mati pun akan sangat bodoh jika menerima istrinya kembali! Bagi suami yang sangat mencintai istrinya, tidak terbayangkan perasaan sakit hati dikhianati bertubi-tubi secara terang-terangan.

Bangsa Israel digambarkan sebagai Gomer--istri yang tidak setia--yang berulang kali mengkhianati pernikahannya dengan Hosea--suami yang kesabaran dan kesetiaan-Nya menggambarkan sifat Allah. Saat Hosea diminta untuk menikah, perintah Allah jelas: Hosea harus mengawini perempuan sundal (1:2). Bukankah Allah sudah tahu bahwa bangsa pilihan-Nya akan bersundal hebat, terus-terusan berzinah dengan menyembah ilah-ilah lain (2:6,12)? Mengapa Allah memilih bangsa seperti itu? Tidak adakah bangsa lain yang lebih baik? Memang, pada akhirnya, semua bisa menjadi happy ending. Akan tetapi, apakah worth it (sepadan) bagi Tuhan untuk mengabaikan perasaan-Nya sendiri saat melalui proses yang sangat menyakitkan itu?

Siapakah Gomer dalam firman Tuhan yang kita baca hari ini? Jika Anda menunjuk orang lain, Anda gagal mengenali sifat Gomer dalam diri Anda! Tuhan tidak akan mendiamkan kekudusan orang-orang pilihan-Nya dinajiskan! Ia akan bertindak! Pada saat terjadi, hal itu akan sangat menyakitkan (2:2,8-12). Akan tetapi, sekalipun menyakitkan, Tuhan bermaksud memakai kondisi itu untuk membuat kita berbalik kepada-Nya. Sebenarnya, Tuhan bukan tidak mencegah kita berlaku keji terhadap Dia (2:5), tetapi kita sangat kurang peka, atau mungkin kita pura-pura tidak peka. Bila kita mau jujur, bukan sekali-dua kali kita sengaja mengeraskan hati. Sadarilah betapa Allah sangat mengasihi kita. "Suami" yang terus kita lukai itu tetap membujuk kita dan berusaha memenangkan, bahkan menenangkan hati kita (2:13-14). Berbeda dengan kebiasaan dunia: Allah tetap mengasihi kita (2:13-22). Berbaliklah kepada Dia yang terus kita sakiti hati-Nya! [GI Mario Novanno]

Pokok Doa
1. Pegawai Negeri Sipil.
2. Pengentasan Kemiskinan.
3. Majelis Bidang Sosial Sinode GK.
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16
www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design