Bayangkan sebuah lapangan luas di bawah matahari Babel. Ribuan orang berlutut, musik megah berkumandang, dan di hadapan mereka berdiri patung emas raksasa setinggi hampir 30 meter, lambang kekuasaan raja terbesar di dunia saat itu, yaitu Raja Nebukadnezar. Namun, di tengah lautan manusia yang bersujud, tiga sosok tetap berdiri tegak. Semua mata tertuju kepada mereka. Musik berhenti. Keheningan menegang. Dunia menuntut mereka untuk tunduk, tetapi mereka memutuskan untuk tetap berdiri. Tindakan itu seperti masalah sepele. Akan tetapi, sikap itu mencerminkan (continue)





