Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   Artikel   »   

Mazmur. Cermin Bagi Jiwa

Jumat, 6 Desember 2019
Renungan GeMA
Kitab Mazmur tampaknya adalah kitab paling dikenal, tetapi sekaligus paling tidak dimengerti, oleh orang Kristen. Sebagian besar orang Kristen akrab dengan Mazmur 1 (berbahagialah orang yang suka merenungkan Taurat Tuhan), Mazmur 23 (Tuhan adalah Gembalaku), dan Mazmur 119 (ungkapan orang yang mencintai firman Tuhan). Votum yang dibaca di awal ibadah diambil dari Mazmur 121:2 dan 124:8 ("Pertolongan kita adalah dari Tuhan"). Lirik berbagai lagu kesayangan orang Kristen terinspirasi dari kitab Mazmur, misalnya: "Seperti Rusa Merindukan Sungai-Mu" (Mazmur 42), "Hanya Dekat Allah" (Mazmur 62), "Selain Kau Tiada Yang Lain" (Mazmur 73), "Satu Hal Yang Kurindu"(Mazmur 84), "Pujilah Tuhan Hai Jiwaku" (Mazmur 103), "Selidiki Aku" (Mazmur 139), dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semua fakta di atas menunjukkan bahwa Mazmur tidaklah asing bagi gereja secara umum maupun bagi orang Kristen secara pribadi.

Walaupun kitab Mazmur sudah dikenal, kitab ini tidak mudah dipahami. Kesulitan memahami kitab ini minimal disebabkan oleh tiga hal: Pertama, kitab Mazmur sukar dipahami karena kitab ini berbentuk puisi. Dewasa ini, kemampuan menikmati puisi semakin menghilang. Bagi kebanyakan orang, bacaan berbentuk cerita lebih mudah dipahami dibandingkan bacaan berbentuk puisi. Hanya sebagian kecil orang yang sanggup memahami bahasa puisi. Tidak mengherankan bila kita bisa membaca kisah Penciptaan, Keluaran, serta kisah kehidupan Yesus Kristus dan perjalanan para rasul tanpa banyak kesulitan, tetapi kita harus bergumul untuk bisa memahami kitab Mazmur dan kitab-kitab lain yang berbentuk puisi.

Kedua, kitab Mazmur sukar dipahami karena isinya unik. Hampir seluruh kitab Mazmur merupakan perkataan manusia yang ditujukan kepada Allah. Jika kita mencermati lebih lanjut, ungkapan-ungkapan kitab Mazmur diekspresikan dengan luapan emosi yang beragam. Ada kalanya pemazmur dipenuhi rasa sukacita, yakin, syukur, rindu, dan heran, tetapi tidak jarang pula dikuasai oleh rasa sedih, marah, kecewa, cemas, takut, dan putus asa. Pada masa kini, dalam ekspresi ibadah yang cenderung menekankan argumen dan nalar serta doktrin dan pengajaran yang benar, kita bisa merasa canggung terhadap betapa ekspresifnya pemazmur dalam meluapkan emosinya.

Ketiga, kitab Mazmur terasa asing bagi kita karena adanya kesenjangan waktu yang panjang antara kita yang hidup saat ini dengan dunia dalam kitab tersebut. Kita yang hidup di sekeliling gedung pencakar langit kemungkinan besar sulit menghayati gambaran-gambaran pemazmur yang hidup di dunia kuno. Sebagian besar di antara kita setiap hari bergelut dalam dunia perdagangan dan perkantoran, pabrik dan sekolah, sedangkan pemazmur memakai contoh-contoh dari dunia peternakan dan pertanian. Kita hidup dalam dunia yang relatif damai dan tertata, sedangkan pemazmur beberapa kali memakai gambaran-gambaran dari dunia militer dan peperangan. Lagi pula, kita hidup dalam terang kedatangan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, sedangkan pemazmur adalah orang Israel yang hidup sebelum Yesus Kristus menjadi Manusia. Oleh karena itu, kesulitan utama adalah menemukan kaitan dan relevansi mazmur dengan kehidupan kita pada masa kini.

Mazmur dan Perasaan Manusia
Sesungguhnya, kesulitan dalam membaca, memahami serta menghayati Mazmur menimbulkan kehilangan besar bagi orang percaya. Mengapa demikian? Dari kitab Mazmur kita menemukan bahwa perasaan manusia itu bernilai dan boleh—bahkan perlu—diungkapkan kepada Allah. Biasanya, perasaan senang, syukur dan sukacita dengan leluasa kita luapkan dalam ibadah publik. Namun, perasaan "negatif" seperti marah, kesal, kecewa, sedih, dan putus asa biasanya kita simpan, bahkan kita sembunyikan. Tampaknya, banyak orang Kristen memiliki pandangan bahwa kehidupan kristiani harus selalu senang, gembira, dan penuh iman. Mereka menganggap bahwa perasaan kecewa, sedih, amarah dan sejenisnya adalah perasaan yang keliru dan bahkan berdosa, dan oleh sebab itu perlu ditekan dan tidak boleh diekspresikan.

Kita perlu ingat bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan rasio (pemikiran), emosi (perasaan), dan kemauan. Oleh karena itu, kemampuan merasa sedih, marah, senang, dan takut adalah pemberian Allah. Memiliki perasaan-perasaan itu tidak membuat kita menjadi bersalah atau berdosa. Yesus Kristus—Anak Allah yang menjadi manusia—pun merasakan dan mengekspresikan emosi di dalam kehidupan-Nya di muka bumi. Ia bersukacita (setelah 70 murid kembali dari pelayanan), marah (ketika melihat orang berjualan di depan Bait Suci), sedih (menghadapi kematian Lazarus), juga pernah merasa gentar (menghadapi penyaliban).

Sama seperti pikiran dan perbuatan manusia yang harus berpusat kepada Tuhan, perasaan manusia juga demikian. Kita perlu senang di dalam Tuhan, sedih di dalam Tuhan, marah di dalam Tuhan, takut di dalam Tuhan. Itu adalah perasaan-perasaan yang benar arahnya. Namun, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, perasaan-perasaan itu jadi menyeleweng, bukan lagi berpusat pada Tuhan, melainkan pada diri sendiri. Sebagai salah satu contoh adalah rasa takut. Setelah jatuh dalam dosa, ketakutan manusia tidak berpusat kepada Tuhan. Manusia takut dirinya dihukum. Manusia takut dirinya direndahkan ("sangat takut dengan "apa kata orang"). Manusia takut dirinya mati. Perasaan-perasaan semacam ini berpusat pada diri sendiri. Obat dari Alkitab—terutama dari kitab Mazmur—untuk rasa takut adalah dengan mengembalikan dan menjadikan Tuhan sebagai rujukan.

"Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" Mazmur 56:4-5
"Takutlah akan Tuhan, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari Tuhan, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik." Mazmur 34:10-11

Perasaan yang diungkapkan dalam kitab Mazmur bukan hanya ketakutan, tetapi juga emosi-emosi lainnya. Dari kitab Mazmur, kita belajar untuk mengungkapkan perasaan-perasaan kita yang terdalam kepada Allah. Namun, Mazmur bukan hanya menolong kita mengekspresikan emosi kita. Selanjutnya, kitab Mazmur juga mengarahkan dan membentuk orang percaya agar memiliki emosi yang sehat.

Membaca dan Merenungkan Mazmur
Bagaimana cara untuk membaca dan mempelajari kitab Mazmur? Pertama, saat membaca kitab Mazmur, perhatikanlah (bila ada) rujukan tentang peristiwa yang berkaitan dengan mazmur yang sedang dibaca. Biasanya, di awal setiap mazmur ada keterangan tentang kondisi saat mazmur itu ditulis dan tentang sang penulis mazmur. Tokoh yang secara khusus perlu kita cermati dengan lebih mendalam adalah Raja Daud. Kira-kira separuh dari kitab Mazmur dilekatkan dengan namanya. Untuk memahami beberapa mazmur, kita perlu mencari tahu peristiwa yang sedang dialami oleh Daud (misalnya Mazmur 3, 7, 34). Peristiwa yang dialami Daud dapat dibaca di kitab 1-2 Samuel.

Kedua, perhatikan apa yang menjadi isi ungkapan pemazmur. Mazmur yang ada bisa jadi berisi pujian (Mazmur 8, 145), keluhan (Mazmur 12, 13), ungkapan rasa syukur (Mazmur 9, 30), atau seruan keyakinan (Mazmur 23). Bisa pula Mazmur tersebut berisi pengajaran atau hikmat (Mazmur 1; 78) ataupun meninggikan raja atau kerajaan (Mazmur 2; 20; 21).

Ketiga, sembari membaca, selidikilah apa yang sedang dirasakan oleh pemazmur. Apakah ia sedang merasa senang, marah, kecewa, sedih, takut, atau tertekan? Mengidentifikasi perasaan sang pemazmur akan menolong kita dalam menghayati isi Mazmur tersebut. Bayangkan bila kita merasakan hal yang sama. Bayangkan perkataan-perkataan tersebut sebagai perkataan kita sendiri.

Keempat, bacalah dengan perlahan dan perhatikan apa yang dikatakan pemazmur tentang situasi yang sedang dia alami. Perhatikan pula apa yang pemazmur katakan tentang Allah. Perhatikan bagaimana Allah bertindak dalam situasi yang sedang dia alami.

Kelima, perhatikan gambaran atau ungkapan yang dipakai pemazmur. Karena Mazmur ditulis dalam bentuk puisi, pemazmur memakai banyak gaya bahasa dalam mengeskspresikan apa yang ia rasakan. Ia memakai gambaran, ibarat, dan juga perbandingan. Misalnya, dalam Mazmur 1, hidup manusia digambarkan dengan jalan dan tumbuhan; sedangkan dalam Mazmur 23, Tuhan diibaratkan sebagai Gembala dan manusia sebagai domba. Analisalah dan renungkanlah apa yang hendak disampaikan lewat gambaran tersebut. Misalnya, apakah yang ingin ditekankan pemazmur saat menyamakan Allah dengan gunung batu dan kota benteng? (Mazmur 62:3).

Keenam, bacalah mazmur dengan berpusat pada Kristus. Setelah Yesus Kristus bangkit, Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya serta mengajar dan mengingatkan mereka tentang apa yang tertulis tentang Dia "dalam Kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" (Lukas 24:27 dan 44). Tuhan Yesus Kristus menegaskan bahwa setiap kitab dalam Perjanjian Lama (termasuk Mazmur) menyatakan tentang diri-Nya. Tidak mengherankan bila para penulis Perjanjian Baru berulangkali mengutip kitab Mazmur dan mengenakannya kepada Tuhan Yesus Kristus. Hari ini, saat membaca kitab Mazmur, kita juga perlu bertanya dan merenungkan apa yang dikatakan oleh bagian yang kita baca tentang Pribadi, karya, serta ajaran Yesus Kristus.

Penutup
Saat membaca dan merenungkan kitab Mazmur, pakailah mazmur tersebut sebagai sarana mengekspresikan perasaan kita. Biarkan Tuhan bekerja melalui mazmur-mazmur yang kita baca untuk membentuk serta mengarahkan emosi kita seturut kehendak-Nya. Dengan merenungkan kitab Mazmur, semoga kita bisa menemukan Yesus Kristus di dalam dan melalui mazmur yang kita baca, dan kita bisa semakin mengenal, mengasihi serta menyerupai Dia di dalam segala hal, termasuk dalam emosi kita. [GI Williem Ferdinandus]
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design