Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   GEMA   »   2019   »   Juli   »   

Hormat Kepada Orang Tua

Minggu, 7 Juli 2019
Renungan GeMA
Bacaan Alkitab hari ini : Keluaran 20:12 (Hukum Kelima)

Keluarga adalah lembaga pertama yang Allah dirikan saat Dia menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya (Kejadian 1:26-28, 2:24). Melalui relasi antara ayah dan ibu dalam keluarga, lahirlah anak-anak yang semestinya dididik oleh orang tua untuk semakin mengenal Allah (Kejadian 1:28, 18:19, Ulangan 6:4-9). Dalam rencana dan kehendak Allah, kedudukan orang tua lebih tinggi daripada anak, sehingga anak menghormati orang tua (20:12). Perintah tersebut harus dilakukan untuk menjaga tatanan dalam keluarga seperti yang dikehendaki Allah.

Pada masa kini, ada anak yang menaruh hormat dengan semestinya, tetapi ada pula anak yang tidak peduli—bahkan bersikap buruk—terhadap orang tua yang sudah membesarkan mereka. Tak dapat disangkal bahwa banyak orang tua yang telah gagal dalam mengasuh dan mendidik anak yang telah dipercayakan kepada mereka. Ada orang tua yang membuat anaknya menyimpan kemarahan (Efesus 6:4), merasa sakit hati, takut, atau sangat gelisah (Kolose 3:21). Sikap orang tua yang seperti itu membuat anak sulit melakukan hukum kelima ini. Jelaslah bahwa ada keadaan saling mempengaruhi antara orang tua dengan anak. Anak yang tidak menyimpan rasa marah dan sakit hati terhadap orang tua akan lebih mampu menghormati serta mematuhi orang tuanya (20:12, Efesus 6:1). Sebaliknya, orang tua yang diperlakukan dengan hormat dan ditaati oleh anaknya akan lebih mudah membesarkan dan mendidik anak sesuai dengan firman Tuhan.

Kondisi saling mempengaruhi di antara para pihak dalam keluarga tersirat dalam perkataan, "Rendahkan dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus," (Efesus 5:21). Namun, jika dinamika relasi dalam keluarga hanya ditentukan oleh keadaan saling mempengaruhi, relasi dalam keluarga itu akan bersifat kondisional: anak hormat dan taat hanya bila orang tuanya tidak membangkitkan amarah dan tidak melukai hati. Sebaliknya, orang tua hanya akan mengasuh dan mendidik anak dengan benar bila anak itu menghormati dan menaati orang tua. Dinamika relasi yang kondisional ini tidak sesuai dengan makna "di dalam Kristus" yang mendasari relasi keluarga Kristen. Kristus mengasihi kita bukan karena kita mampu mematuhi firman-Nya. Kasih Kristus tidak kondisional! Walaupun orang tua telah melukai hati dan menimbulkan kemarahan, marilah kita tetap bersikap menghormati dan menaati mereka di dalam takut akan Kristus (Efesus 5:21). [Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono]
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design